Iya betul, Di Tanah Lada itu judul novel ini. Buku yang dikarang oleh Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie ini telah memenangkan peringkat kedua dalam Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Kemudian pada bulan Agustus 2015, cerita ini dipublikasikan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama. Secara sekilas mungkin cover novel ini terlihat sederhana, namun setelah merampungkan novel ini, menurut gue ilustrasi perempuan kecil dengan gaun merah pada cover depan terlihat seperti memancarkan kepiluan yang dalam.
Gimana engga, lha wong novel dengan ketebalan
244 halaman ini menceritakan tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), udah
gitu narrator dalam novel ini seorang anak perempuan berusia 6 tahun. Segala
bentuk kekerasan yang enggak hanya dialami oleh ibunya, tapi juga dirinya sebagai
anak di dalam rumah dipaparkan pada novel ini. Hal yang buat gue banyak bicara
tentang pilu dalam novel ini dikarenakan anak perempuan berusia 6 tahun tadi
yang bernama Salva (panggilannya Ava) dengan segala kepolosan dan keluguannya
menceritakan tentang kekerasan yang terjadi di keluarganya.
Menurut gue si penulis itu cukup
konsisten mengenai kedalaman karakter tiap tokohnya, sehingga meenjadikan
alurnya menjadi cukup realistis untuk dibayangkan. Ada satu catatan menurut gue
pribadi mengenai sosok Ava ini, dimana sedari awal karakternya yang sangat sering
dengan mudahnya teralihkan dari hal yang sedang diceritakannya kepada hal lain
yang tidak ada hubungannya dengan main idea nya di awal, itu bagus, karena
memang semua anak kecil begitu. Namun karena cukup sering ditampilkan karakter 'mudah teralihkannya' tadi, juga dengan pola yang
sama membuat pas baca part 'ngelantur' nya Ava terkadang gue skip. IMO
akan lebih baik kayaknya kalo ngelanturnya si Ava ini tuh ada makna tersirat giru, mengingat kondisi dia yang sangat tidak apa-apa dengan kehidupannya sebagai anak kecil.
Tidak berniat untuk spoiler, tapi
jujur gue engga membayangkan akhir ceritanya akan demikian. Tapi setelah gue resapi
kembali, akhir dari cerita pilu kehidupan anak-anak ini mungkin saja terjadi.
Anak-anak cenderung belum dapat mengatur emosinya dengan baik, dan juga belum
mampu untuk berpikir dengan jernih. Selain itu juga kesedihan dan kesengsaraan
yang selama dihadapi oleh anak sekecil itu yang seharusnya memiliki kehidupan
yang aman dan menyenangkan untuk hidup membuat akhir cerita ini jadi cukup realistis, walaupun gue yakin kebanyakan pembaca tidak berharap demikian. Perlu diketahui juga arti dari judul novel ini menurut Ava ialah Tanah (yang penuh akan/ melahirkan banyak) Kebahagiaan.
Menurut gue novel ini sangat asik
untuk dibaca pada malam hari, yaitu ketika hening berkeliling, supaya nada
kepiluan dari novel ini dapat tersampaikan dengan apik. Cukup ringan namun
penuh makna. Karena terdapat beberapa kalimat yang gue rasa bagus, gue akan
tulis sebagian disini. Don’t forget to enjoy the book guise and spread our
loves to every child around us ya! Jangan lupa juga untuk sayangi penulis dengan
cara untuk tidak membeli, tidak menyebarkan dan tidak membaca yang bajakan.
“Bacalah
banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton
televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci.
Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang
tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi,
kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut”
“Yang
lebih penting dari bertutur kata baik adalah bertutur kata dengan tepat”
“Tidak
ada yang bisa tahu apa yang kamu rasakan - sayang atau tidak - kalau kamu tidak
mengatakan, atau menunjukkannya dengan benar”

