Mengenai Saya

Foto saya
Hii, Welcome to my e-mind. Will always share book reviews, opinions on current issues, or even some poetry! 🌻

Rabu, 09 Juni 2021

Pilu banget Novel Ini – Di Tanah Lada

 

     Iya betul, Di Tanah Lada itu judul novel ini. Buku yang dikarang oleh Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie ini telah memenangkan peringkat kedua dalam Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Kemudian pada bulan Agustus 2015, cerita ini dipublikasikan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama. Secara sekilas mungkin cover novel ini terlihat sederhana, namun setelah merampungkan novel ini, menurut gue ilustrasi perempuan kecil dengan gaun merah pada cover depan terlihat seperti memancarkan kepiluan yang dalam.

            Gimana engga, lha wong novel dengan ketebalan 244 halaman ini menceritakan tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), udah gitu narrator dalam novel ini seorang anak perempuan berusia 6 tahun. Segala bentuk kekerasan yang enggak hanya dialami oleh ibunya, tapi juga dirinya sebagai anak di dalam rumah dipaparkan pada novel ini. Hal yang buat gue banyak bicara tentang pilu dalam novel ini dikarenakan anak perempuan berusia 6 tahun tadi yang bernama Salva (panggilannya Ava) dengan segala kepolosan dan keluguannya menceritakan tentang kekerasan yang terjadi di keluarganya.

            Menurut gue si penulis itu cukup konsisten mengenai kedalaman karakter tiap tokohnya, sehingga meenjadikan alurnya menjadi cukup realistis untuk dibayangkan. Ada satu catatan menurut gue pribadi mengenai sosok Ava ini, dimana sedari awal karakternya yang sangat sering dengan mudahnya teralihkan dari hal yang sedang diceritakannya kepada hal lain yang tidak ada hubungannya dengan main idea nya di awal, itu bagus, karena memang semua anak kecil begitu. Namun karena cukup sering ditampilkan karakter 'mudah teralihkannya' tadi, juga dengan pola yang sama membuat pas baca part 'ngelantur' nya Ava terkadang gue skip. IMO akan lebih baik kayaknya kalo ngelanturnya si Ava ini tuh ada makna tersirat giru, mengingat kondisi dia yang sangat tidak apa-apa dengan kehidupannya sebagai anak kecil.

            Tidak berniat untuk spoiler, tapi jujur gue engga membayangkan akhir ceritanya akan demikian. Tapi setelah gue resapi kembali, akhir dari cerita pilu kehidupan anak-anak ini mungkin saja terjadi. Anak-anak cenderung belum dapat mengatur emosinya dengan baik, dan juga belum mampu untuk berpikir dengan jernih. Selain itu juga kesedihan dan kesengsaraan yang selama dihadapi oleh anak sekecil itu yang seharusnya memiliki kehidupan yang aman dan menyenangkan untuk hidup membuat akhir cerita ini jadi cukup realistis, walaupun gue yakin kebanyakan pembaca tidak berharap demikian. Perlu diketahui juga arti dari judul novel ini menurut Ava ialah Tanah (yang penuh akan/ melahirkan banyak) Kebahagiaan.

            Menurut gue novel ini sangat asik untuk dibaca pada malam hari, yaitu ketika hening berkeliling, supaya nada kepiluan dari novel ini dapat tersampaikan dengan apik. Cukup ringan namun penuh makna. Karena terdapat beberapa kalimat yang gue rasa bagus, gue akan tulis sebagian disini. Don’t forget to enjoy the book guise and spread our loves to every child around us ya! Jangan lupa juga untuk sayangi penulis dengan cara untuk tidak membeli, tidak menyebarkan dan tidak membaca yang bajakan.

 

“Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut”

 

“Yang lebih penting dari bertutur kata baik adalah bertutur kata dengan tepat”

 

“Tidak ada yang bisa tahu apa yang kamu rasakan - sayang atau tidak - kalau kamu tidak mengatakan, atau menunjukkannya dengan benar”

Selasa, 25 Mei 2021

Siapa Tokoh Utama pada Buku Senja di Jakarta?

 


Salah satu buku Mochtar Lubis yang wajib dibaca lagi adalah novelnya yang berjudul Senja di Jakarta. Tebit pertama kali dalam versi bahasa inggris pada tahun 1963, kemudian baru pada tahun 1970 diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Obor Indonesia. Memiliki cover yang cukup sederhana, yaitu lukisan siluet orang sedang merentangkan tangannya, namun isi cerita, penokohan, gaya bahasa, pesan, semua-muanya bagus! Ah, satu hal, Mochtar Lubis lagi-lagi berkata jujur melalui karya-karyanya tentang kondisi masyarakat yang tidak baik-baik saja. Siapa gak jatuh cinta coba?!

Novel ini berlatar di Ibukota pada tahun 1950-an. Singkatnya menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat Ibukota menjalani kehidupannya sehari-hari pada 1950-an, namun tidak semudah itu ferguso! Pelik sekali aspek yang dibahas sama Mochtar Lubis dalam novelnya ini. Dibahas bagaimana kehidupan tukang ambil sampah di Jakarta, dibahas pula kehidupan PNS di beberapa kementerian, diskusi geng para pemuda cendikiawan dengan beragam aliran berlangsung, sisi gelap media, hingga gimana petinggi partai cari uang untuk mengurus kehidupan seksnya yang liar. Ditelanjangi betul lah penduduk Jakarta disini hahaha.

Terdapat banyak tokoh yang bermain dalam novel fiksi ini, namun dengan kelihaian Mochtar Lubis, pembaca bisa mengenali dengan baik karakter satu persatu dari tiap tokoh yang ada. Banyak yang mengatakan dalam resensi yang berkeliaran di internet mengenai buku ini, bahwa buku ini menceritakan tentang bagaimana seorang Pemilik Media dengan sikap oportunisnya memanfaatkan partai besar yang sedang menjabat. Tapi, menurut gue, pernyataan tadi itu tidak sepenuhnya benar. Melihat pada kompleksitas cerita, kuatnya karakter dari tiap tokoh, kejelasan nasib tiap tokoh sangat detil bahkan semua tokoh saling berkaitan antara satu dan lainnya, maka menurut gue semua tokoh di buku ini itu tokoh utama di ceritanya masing-masing, hahaha. So, guys what do u think? Write down ur opinion on the comment box. If u haven't read it yet, let’s grab this book now, and find out ur answer!

Senin, 26 April 2021

Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life, Sebagus itukah Buku ini?

            

            Buku Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life ini merupakan bacaan yang cukup populer, bahkan pada sampul depannya diklaim sebagai The International Bestseller loh. Buku yang ditulis oleh Hector Garcia dan Frances Miralles sudah diterjemahkan dalam banyak bahasa, salah satunya bahasa Inggris dan memiliki tebal sebanyak 208 halaman. Nuansa Jepang dalam buku ini tersajikan cukup apik dan sederhana, yaitu dengan keberadaan gambar bunga Sakura pada sampul depan buku ini.

            Substansi bacaan ini sebenarnya sudah tergambar dengan jelas melalui pemilihan diksi pada judul yang digunakan, yaitu pola hidup masyarakat Jepang -khususnya kota Okinawa- yang memiliki harapan hidup lebih lama dan bahagia. Dari beberapa kebiasaan yang dipaparkan dalam buku ini, penulis buku ini berusaha untuk lebih menekankan konsep Ikigai sebagai faktor yang cukup dominan untuk memiliki hidup yang lebih panjang dan bahagia.

            Dari 9 bab yang ada, menurutku ada satu dari sekian hal penting yang coba disampaikan oleh penulis terkait rahasia memiliki umur panjang, yaitu build great and strong relations among citizen. Hal ini dapat dilihat ketika penulis banyak menggambarkan ekspresi atau perasaannya dengan cukup detail terhadap kegiatan sosial yang ada di Okinawa. (Sampe gue sebagai pembaca bisa ikut merasakan kuatnya hubungan kekeluargaan di wilayah Okinawa, hihii)

            Selain itu juga poin menarik lainnya dari buku ini ialah pengingat untuk selalu menemukan flow dalam apapun yang kita lakukan. Meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit mengenai pengertian flow ini, tapi penulis mencoba menjelaskannya melalui beberapa contoh yang dipaparkan. Flow dalam buku ini gue pahami sebagai kesatuan yang harmoni antara pikiran jiwa dan raga manusia. Maksudnya ialah ketika kita melakukan suatu hal, maka kita secara penuh (kesatuan pikiran, jiwa dan raga) dan sadar berada pada momen dan hal yang sedang kita kerjakan. Gak perlu mengkhawatirkan masa yang akan datang, pun tidak menyesali masa yang sudah berlalu, cukup disini saja untuk menikmati saat ini. Karena dengan begitu dapat memungkinkan kita untuk menemukan Ikigai kita.

            Kritik yang cukup krusial untuk buku ini menurut gue ialah kurang matangnya definisi konsep ikigai oleh si penulis. Di satu sisi tidak dijelaskan apa itu ikigai menurut pandangan penulis buku, juga tidak ada batasan mengenai konsep ikigai ini. Sehingga menurut gue penulis menjadi tidak konsisten terhadap arti dari ikigai yang mereka gunakan. Terkadang ikigai dimaknai sebagai tujuan hidup atau hal yang membuat hidup kita bermakna, namun di sisi lain penulis juga mengartikan ikigai sebagai hal sederhana yang membuat kita bahagia dan puas akan hidup ini, dan pada bab awal buku ini disajikan pengertian ikigai melalui diagram di bawah ini

Menurutku ini cukup krusial, mengingat bahwa penulis menekankan ikigai sebagai faktor yang berperan besar untuk menjadi panjang umur, yang mana berarti merupakan inti buku ini.

Selain itu juga menurut gue pribadi, ada beberapa part dari buku ini yang mungkin lebih baik jika tidak dimasukkan, yaitu gambar bagaiman gerakan beberapa olahraga.

         Meskipun begitu, buku ini cukup ringan untuk dibaca, dapat menyadarkan beberapa hal sederhana yang kerap luput oleh kebanyakan orang. Sehingga dengan membaca buku ini bisa jadi jeda untuk kita merefleksikan nilai dan makna hidup ini.

If u guys find this writing, means that u have had an interest for this book. I tell u, go ahead, it’s a great book to read, I promise!
About the question on the tittle, I hope u can get your own answer.

Selasa, 06 April 2021

Buku Berjudul “Jalan Tak Ada Ujung” Membongkar Sisi Kehidupan Para Pejuang Revolusi

 


Apakah yang harus kita punyai, agar kita bebas dari ketakutan?

Kira-kira begitulah buku ini dibuka dengan sepenggal kalimat tanya di atas. Pertanyaan yang singkat, namun mungkin banyak dari kita belum menemukan jawabannya sampai saat ini. Apalagi pada era digital kini, data, informasi, kesempatan terbuka sangat luas hingga kadang dunia cenderung dijadikan ajang kompetisi bagi insannya. Karena itu banyak orang takut, khawatir pada banyak hal, kemudian mendadak ndak bisa tidur hingga subuh (Siapa hayo?).

Namun, ketakutan yang dimaksud oleh Mochtar Lubis dalam novelnya yang berjudul Jalan Tak Ada Ujung ini bukanlah demikian. Ketakutan yang dimaksud ialah ketakutan yang dirasakan oleh para pejuang pada masa revolusi, atau sekitar tahun 1946-an. Jakarta yang dijadikan latar tempat dalam cerita ini digambarkan sebagai kota yang sangat mencekam, dimana kekerasan bahkan pembunuhan terhadap masyarakat bisa dilakukan dengan bangga oleh tentara sekutu. Maka dari itu ketakutan menyelimuti banyak masyarakat Jakarta pada masa itu. Terutama, ketakutan luar biasa diberikan kepada salah satu tokoh utama dalam novel ini, seorang guru di salah satu SD di Tanah Abang -yang juga ambil peran dalam perjuangan Indonesia kala itu-, Guru Isa sapaannya. Namun ketakutan Guru Isa sedikit termanipulasi akibat kehadiran Hazil sebagai sosok pemuda yang semangatnya membara untuk mejadi pionir perjuangan pembela rakyat.

Semangat Hazil yang kuat dan teguh untuk meraih kebebasan kemerdekaan merupakan gambaran sosok pahlawan yang tertanam pada banyak masyarakat. Namun, dalam novelnya kali ini, Mochtar Lubis sepertinya berusaha untuk mengkritik paradoks tentang sosok karakter pejuang yang selama ini kita pahami. Bahwa dengan segala himpitan situasi seperti buruknya keadaan ekonomi, hilangnya rasa aman, sulitnya pergerakan perjuangan akhirnya mampu membuat pahlwan bertindak kriminal. Seperti adegan yang ditampilkan oleh Lubis ketika Guru Isa yang dihimpit oleh kebutuhan hidup akhirnya berani untuk mencuri buku dari sekolah tempatnya mengajar untuk dijual di Pasar terdekat dan memberikan uang tadi kepada Fatimah, istrinya.

Selain itu banyak diantara masyarakat dalam novel ini diperlihatkan yang dalam diamnya namun menangisi runtuhnya kolonialisme Belanda dan Jepang di Indonesia. Hati kecilnya (segelintir orang pribumi) berharap kolonialisme dapat diteruskan, sehingga kejayaan hidupnya dapat berlanjut. Miris memang pemikiran ini terngiang di hati masyarakat mengingat sebagian saudara se-tanah air diperlakukan bengis bak hewan.

Tidak berhenti disitu, sosok karakter pahlawan -Hazil- yang banyak dicintai pembaca pada awal cerita ini pun mengkhianati pengagumnya. Hazil memiliki api asmara pada Fatimah, istri Guru Isa. Yang lebih menyedihkan ialah kobaran semangat perjuangan yang dimiliki Hazil selama ini akhirnya redup pada akhir cerita, bahkan dirinya menyerah pada dirinya sendiri dan mengkhianati kawannya. Hebat betul Mochtar Lubis ini mengguncang pembacanya, haha.

Namun meskipun demikian, Mochtar Lubis melalui tokoh Guru Isa memberikan pesan yang cukup mendalam. Bahwa ketakutan pada sesuatu itu akan selalu ada pada tiap dari kita, maka dari itu untuk terus hidup, kita memang dituntut untuk bisa berdampingan dengan rasa takut. Karena dengan begitu, kita dapat bertahan hidup dengan juga selalu berproses menjadi versi yang lebih baik lagi.

Meskipun menurut gue gaya penulisan Lubis dalam novel ini cukup kaku, tapi ini bisa dimengerti karena mengingat novel ini ditulis pada masa yang yang cukup lampau. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1952 oleh Balai Pustaka. Betapa beraninya Lubis mengarang cerita se-vulgar ini pada masa itu, maka dari itu novel setebal 167 halaman ini sangat gue rekomendasiin masuk ke dalam daftar bacaan lo!  


Minggu, 31 Januari 2021

Review Novel Perempuan di Titik Nol – Sebuah Tamparan

    

    Novel Perempuan di Titik Nol merupakan karya buatan Nawal El-Saadawi yang mana bukan merupakan karya fenomenal pertamanya, sebab beberapa bukunya -yang hampir selalu bernada feminis- sudah dilarang terbit di negara asalnya sendiri, Mesir. Hal tersebutlah yang akhirnya menyebabkan novel ini diterbitkan di Lebanon pada tahun 1973. Kemudian buku ini banyak menarik minat masyarakat dunia untuk membacanya, lalu buku ini banyak diterjemahkan dalam bahasa asing lainnya, salah satunya bahasa Indonesia. Di Indonesia sendiri, buku ini diterjemahkan oleh Amir Sutaarga dan diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Cetakan pertama buku ini dilakukan pada tahun 1989, namun penulis (blog) membaca cetakan kesebelas yang mana diterbitkan pada tahun 2014.

            Novel dengan tebal 175 halaman ini benar-benar menggambarkan bagaimana tradisi patriarki yang mengakar kuat di Mesir telah memakan korban nyata yaitu seorang perempuan bernama Firdaus. Kisah pilu kehidupan Firdaus dalam novel Perempuan di Titik Nol ini berasal dari kisah nyata yang kemudian sedikit dibumbui oleh Saadawi agar menjadi sebuah novel yang dapat dinikmati pembaca.

            Firdaus diceritakan sebagai perempuan yang memiliki jalan hidup yang sangat terjal dan menyakitkan. Kehidupan dengan ekonomi yang buruk, tradisi mengagungkan laki-laki yang sangat kental, dilecehkan sejak kecil dan bahkan berlanjut ketika Firdaus beranjak dewasa, sulitnya menggapai keinginannya, bahkan bertahan hidup pun sangat sulit, juga banyak hal buruk lainnya. Saadawi sukses memberikan paket komplit untuk Firdaus hingga dunia terasa sangat tidak adil untuk ditinggali wanita. Dunia digambarkan dengan dominasi kuat laki-laki atas perempuan, mendapatkan makanan, menentukan jalan hidup, bahkan pendamping hidup sekalipun (Malang bgt Firdaus).

            Seluruh laki-laki yang ditemui oleh Firdaus dalam hidupnya selalu memperlakukannya dengan bejat. Dunia yang Firdaus kenal bukanlah dunia indah yang diimikan hampir semua orang untuk tetap abadi di dalamnya, bukan. Melainkan dunia yang berwarna hitam pekat dan menyesakkan karena banyak hewan yang selalu menginginkan dan menikmati tubuh mungil Firdaus yang bahkan selalu ditutup pakaiannya yang panjang. Kepolosan, ketidaktahuan serta keputusasaannya untuk hidup telah membawanya pada dunia pelacuran, ya, Firdaus menjadi pelacur.

            Novel ini menampar pembaca dengan kenyataan bahwa pelacur yang selama ini selalu disorot sebagai suatu hal yang buruk sebenarnya lebih baik dari tradisi tradisi patriarki yang dianggap hal umrah oleh masyarakat. Mengapa demikian? Karena hal yang dilumrahkan oleh masyarakat telah membawa Firdaus kecil yang polos terpaksa untuk menjadi sosok buruk bagi masyarakat hanya untuk bertahan hidup. Kisah Firdaus dalam Perempuan di Titik Nol ini telah mampu memperlihatkan secara baik bahwa perempuan menjadi tidak aman dalam tradisi patriarki yang banyak dibalut oleh doktrin agama.

    Meskipun terkadang terdapat beberapa perumpamaan yang dilakukan oleh Saadawi untuk menggambarkan kondisi Firdaus ini terlihat terlalu hiperbola, namun menurut penulis buku ini tetap worth to read. Mengingat juga tradisi patriarki ini masih kerap terjadi di beberapa daerah di Indonesia, maka novel Perempuan di Titik Nol ini mungkin bisa menjadi bacaan yang baik untuk kita ambil pelajarannya. Juga buku ini sudah tersedia di aplikasi iPusnas.

Rabu, 27 Januari 2021

Alasan Harus Baca Novel Laut Bercerita - Sebuah Review

 


“Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali”

 

Puisi tersebut merupakan salah satu ruh dalam sebuah novel karangan Leila S. Chudori yang berjudul Laut Bercerita yang dipublikasi oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun 2017. Novel ini tentu bukan menceritakan hiu, lumba-lumba atau bahkan warga bikini bottom. Jauh daripada itu, novel ini mengisahkan tentang tokoh utamanya yang bernama Biru Laut sedang bercerita tentang kisahnya dalam bermimpi, berjuang untuk melawan bangunan kokoh yang tegak berdiri, Orde Baru.

Novel setebal 379 halaman ini (isi novel: 373 halaman) terbagi menjadi dua bagian besar, dimana bagian pertama mengisahkan cerita dari sudut pandang Biru Laut yang banyak mengisahkan masa sebelum 1998, sedangkan bagian keduanya menggambarkan dari sudut pandang adik kesayangan Biru Laut, Asmara mengenai kepiluan setelah terjadinya tragedi 1998.

            Chudori memperkenalkan dengan apik tentang sifat dan karakter Biru Laut, seorang mahasiswa sastra UGM, mamanya yang handal memasak tengklek, ayah yang bekerja sebagai reporter di Harian Jakarta, Adiknya yang berkuliah kedokteran di UI Depok, serta teman-temannya yang memiliki kesamaan visi tergabung dalam organisasi Winatra. Winatra digambarkan bukan hanya sebagai organisasi semata, melainkan rumah kedua bagi anggotanya yang berasal dari mahasiswa di Yogyakarta seperti Kinan, Bram, Daniel, Sunu, Alex, dan tentu bagi Biru Laut. Organisasi ini kemudian bekerjasama dengan organisasi lain seperti Wirasena dan Tarakan, yang mana juga berusaha untuk membangkitkan demokrasi di Indonesia pada masa orde baru.

            Meskipun selama jalannya cerita, kita dibawa maju mundur oleh penulis, namun pembaca akan tetap mengerti bagaimana besarnya kasih yang hidup dalam ketiga organisasi tadi, hangatnya keluarga Biru Laut (apalagi ritual setiap hari Minggu di Ciputat), serta brengseknya para cukong Orde Baru menghardik Biru Laut dan kawan-kawannya yang tengah memperjuangkan tegaknya nilai demokrasi dan keadilan, dan tentu kesayangan para pembaca.

            Setelah mendengarkan kisah patriotik Biru Laut dan kawan-kawannya dalam pergerakan aksi dan juga dukungan terhadap masyarakat yang ditindas dengan tidak adil secara terang-terangan, kemudian pada bagian kedua yang mana merupakan cerita dari sudut pandang Asmara lebih bernuansa pilu dan penuh kesedihan. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa kakanya, Biru Laut serta kawannya di Winatra, Wirasena hilang entah kemana. Asmara menggambarkan dengan jelas dalam tiap kata di paragrafnya tentang bagaimana kesedihan itu bergerumul dalam kehidupannya. Kenyataan bahwa kakak kesayangannya tak kunjung pulang, juga Ibu dan Ayahnya yang selalu berusaha sembunyi dalam dunia yang dibangunnya, tentang angan bahwa mungkin Laut akan pulang kerumah suatu hari nanti.

            Situasi yang lebih mengerikan daripada kematian ini telah mengkungkung Asmara untuk tetap mempertahankan rasionalitasnya daripada emosinya. Hal ini tentu diperlukan untuk membantu orang sekelilingnya sadar tentang realita yang ada, sepahit apapun itu atau bahkan tentang kemungkinan bahwa Biru Laut tidak akan pulang. Leila S. Chudori dengan permainan diksinya dalam novel ini mampu membuat siapa saja ikut amarah atau bahkan berlinang air mata. Pantas saja novel Laut Bercerita ini telah membawa Chudori sebagai pemenang dalam South East Asia Write Award pada tahun 2020. Kemenangan tersebut tentu diraih atas keseriusannya dalam menulis novel ini, hal ini dapat dilihat pada pernyataan Chudori sendiri dalam bagian Ucapan Terima Kasih dalam novel ini, dimana disebutkan bahwa Chudori telah melakukan wawancara dengan para korban atau kerabat dari aktivis yang hilang ataupun yang selamat dari kekacauan yang terjadi pada tahun 1998, hingga akhirnya dituliskan dalam bentuk fiksi ini.

            Setelah merampungkan buku ini, penulis jadi merasa bahwa ada sesuatu yang hilang dari diri ini sebagai manusia, yaitu kepedulian. Tentang kasus hilangnya aktivis 1998, aksi kamisan yang menuntut pemerintah memenuhi tanggungjawabnya, atau mungkin banyak kasus pelanggaran HAM lainnya yang masih terjadi hingga saat ini. Karakter laut dan kawan-kawannya di Wirasena, Winatra dan Tarakan telah menyentil ego penulis, bahwa mungkin saja saat ini -menuntut ilmu, membaca buku, bersuara- tidak akan sebaik dan senyaman ini tanpa perjuangan teman-teman aktivis yang terluka, atau bahkan mati pada maa orde baru.

Bagi teman-teman yang belum membaca novel Laut Bercerita, penulis sangat merekomendasikannya untuk dimasukkan dalam list bacaannya. Karena novel ini dapat menjadi sebuah refleksi bagi kita untuk mengenang sosok dan jasa para pahlawan yang tidak selalu menunggangi kuda. Tidak perlu khawatir mengenai harga di masa pandemi ini, karena novel ini sudah tersedia di aplikasi iPusnas, silahkan download aplikasinya di gadget kalian dan silahkan pinjam dan baca melalui smartphone kamu. Salam.  


Hikayat Anak yang Malang

Seketika awan hitam datang Dunianya seolah berhenti, sendirian Tangannya gemetar, matanya terlihat basah Tak berdaya dikejar keabadian. Mung...