Mengenai Saya

Foto saya
Hii, Welcome to my e-mind. Will always share book reviews, opinions on current issues, or even some poetry! 🌻

Minggu, 03 Desember 2023

Di Bawah Lindungan Ka’bah – Lebih Pilih Novel atau Filmnya?

 


Sinopsis ringkas

    Berlatar pada tahun 1920 an di kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, kisah ini bermula ketika saudagar kaya raya bernama Engku H. Ja’far membeli rumah besar yang ada di wilayah tempat Hamid tinggal bersama mamanya. Engku H. Ja’far, istrinya dan juga Zainab -anak perempuan satu-satunya yang sepantaran dengan Hamid- memiliki budi yang sangat baik, kerap kali membantu siapapun yang kesusahan. Hamid merupakan salah satu warga desa yang dibantu oleh H. Ja’far, yaitu disekolahkan. Dengan begitu, besar rasa hormat yang diberikan oleh Hamid kepada H. Ja’far dan istrinya, yang kerap dipanggil Mak Asiah oleh Hamid.

    Hamid pergi ke sekolah yang sama dengan Zainab, dan persahabatan di antara keduanya tentu tak dapat terelakan lagi. Banyaknya waktu bermain yang dihabiskan oleh mereka berdua ternyata menjadi suatu kekuatan, yang mampu menimbulkan benih-benih ketertarikan oleh keduanya. Semakin beranjak dewasa, Hamid mulai menyadari bahwa ada jurang besar antara dirinya dengan Zainab terkasih. Jurang yang rasanya terlalu sulit ditembus oleh Hamid, iya, status sosial dan ketimpangan ekonomi keduanyalah yang menjadi penghalang dari ketulusan cinta keduanya.

Jangan kau turutkan hatimu, sampai kapanpun emas takkan setara dengan loyang, sutra takkan sebangsa dengan benang” -Mamak Hamid

    Supaya tidak spoiler secara terang-terangan, kiranya akhir kisah cinta antara Hamid dan Zainab ini sangatlah realistis, dan tragis, dan suci, dan abadi.

 

Novel
    Novel berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah merupakan karangan seorang ulama besar Indonesia dan juga sastrawan Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau lebih dikenal dengan Buya Hamka. Novel ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1938 oleh Balai Pustaka, penerbit nasional Hindia Belanda. Buku fiksi ini memiliki 13 bab dengan total 91 halaman di dalamnya. Menurut hemat penulis buku ini kurang lebih hanya membutuhkan waktu 1-2 jam saja untuk menyelesaikan keseluruhan cerita.

    Kisah yang termuat dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah ini sarat akan budaya minang, mulai dari penggunaan sebutan engku untuk menyebut H. Ja’far, dimana menurut KBBI disebutkan bahwa engku dapat bermakna sebagai kata sapaan kepada orang yang patut dihormati. Juga menggunakan sebutan abang yang berarti kakak laki-laki, dan juga Mak yang sebenarnya merupakan singkatan dari mamak.

    Selain cerita yang sungguh amat dikagumi, Buya Hamka juga banyak menggunakan kata Bahasa Indonesia yang menurutku saat ini sudah mulai jarang digunakan dalam keseharian, seperti saya, engkau, hendak, jongos, beroleh, anakanda, permenungan, alang, menyabarkan, mempertalikan dan masih banyak lagi diksi indah lainnya, wah Buya maafkan saya terlalu telat mengenal karyamu. Masih dalam situasi terkagum, mengingat usia novel ini yang sudah lebih dari 80 tahun, namun karyanya masih saja digemari oleh banyak generasi hingga saat ini, maka tak heran kalau nama Buya Hamka masih banyak diperbincangkan oleh banyak orang meskipun raganya telah lama pergi menuju sang Khaliq.

 

Film
    Seperti kebanyakan novel yang memiliki banyak sekali penggemar, Di Bawah Lindungan Ka’bah juga akhirnya diadaptasi menjadi sebuat film layar lebar oleh rumah produksi MD Pictures, dan disutradarai oleh Hanny R. Saputra. Film romansa ini dirilis pada tahun 2011. Film dengan durasi 121 menit ini ditargetkan untuk meraih 7 juta penonton, namun hingga akhir penayangannya, film ini hanya mendapatkan 520 ribu penonton. Meskipun demikian film ini sempat diajukan sebagai perwakilan Indonesia pada Academy Awards ke-84 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik, namun Di Bawah Lindungan Ka’bah tidak berhasil untuk masuk nominasi akhir.

    Menurut hemat penulis, sinematografi dalam film ini sungguh memukau, serta didukung oleh aktor Indonesia yang tak perlu diragukan lagi bakat aktingnya. Hamid diperankan oleh Herjunot Ali, dan Zainab diperankan oleh Laudya Cynthia Bella. Bagaimana komposisi, angle, efek yang digunakan, pencahayaan serta background music yang menurutku, ‘perfectly fit’. Meskipun memang cerita dalam film tidak sama persis dengan apa yang ada di dalam novel, namun menurut penulis, film ini tetap mampu menyajikan alur cerita yang menarik hingga akhir.

    In conclusion, penulis tidak dapat memilih antara film atau novel. Keduanya memiliki kelebihannya yang mana membuat karya tersebut unik dan spesial dalam kategorinya masing-masing. Novel, sudah menjadi rahasia umum bahwa melalui tulisan tentu pembaca memiliki kesempatan untuk melihat dan merasakan lebih dalam terkait emosi dan juga kompleksitas yang terjadi dalam sebuah cerita. Selain itu ada banyak sekali kata-kata indah nan penuh makna yang dilontarkan oleh Buya Hamka melalui novelnya ini.

    Disisi lain film yang disuguhkan oleh MD Pictures lumayan berbeda dengan alur novel, penulis menduga hal tersebut dilakukan demi kebutuhan komersil, sehingga ditambahi scene yang sedikit modern supaya dapat menarik lebih banyak penonton. Namun secara garis besar jalan cerita keduanya masih sejalan serta akting para aktor yang terlibat di dalamnya mampu membawa penonton larut dalam kisah Hamid dan Zainab.


Jumat, 24 November 2023

Review a Classic Political Satire Novel - Animal Farm

All animals are equal, but some animals are more equal than others

What a strong satire the book is! Hahaha. I did not expect that this book would be so much fun and amazing to read at all! Okay as written on the title, this is “Animal Farm” by Geroge Orwell (his real name is Eric Arthur Blair). The original version of it is in English, but along the time, it has been translated into many languages and versions as well. Regarding to Gramedia Blog, it says that the title of the book could be changing in following the translation itself. In Bahasa Indonesia version, it was translated by Bakdi Soemanto and published by Penerbit Bintang. But I read the e-book version which was disseminated by Mizan Digital Public.

It is one of his famous books and is still being read by people nowadays. There was a saying spread over the internet that talked about how through this novel, Orwell attempted to satirize the Russian revolution, but I cannot find any short of Orwell’s own perspective regarding it. Regardless of that, the book with 10 chapter and 144 pages itself has a lot of things and values that were still relevant up to now. Orwell puts animals to completed his allegory novel.

The story was begun in the Manor Farm, owned by a man named Mr. Jones. There were a lot of animals living in the Manor Farm, pigs were described as the most brilliant than other animals which brought the pigs to be a leader of the group. Also, there were chickens, horses, mouses, cats, dogs, cows, and donkey. They were living in the same and usual habit before the old major which is the oldest pig in the farm told to the whole animals in a gathering room about his mind of revolution. The old major said that the life they were living is not fair at all, since animals need to work and produce more than they think they deserved and benefit from. And, all animals agree that they need no any masters, all they need is the independence.

Three days later, the old major died, before the revolution even started. His mandate automatically carried on by other pigs in the Manor Farm, there were 3 candidates appeared they were Snowball, Napoleon, and Squealer. A few months later, the revolution had just happened, Mr. and Ms. Jones, and their employees run away due to the attack by animals. And here is the begining of animalism. As a part of the revolution, the three of pigs started in crearing seven commandments that dictate the principle of animalism. These were painted on the side of the barn, so everyone can see it clearly (even though just some of the animals who can read. one of them is Benjamin, a donkey). 


Napoleon started his government with a lie, and he kept lying about many things. He began to break the commandments for various reasons. He was no longer living in the barn but in Mr. Jones's rooms. He had a dog-watch that he raised to protect him and other pigs as well. He drank and ate with cutlery in the kitchen. He raised and treated piglets better than other animal children. He broke all the rules until the last and the worst thing he did was add Commandment No. 7, written as 'All animals are equal, but some animals are more equal than others.'

I believe that the novel is very worth your time. Also, it is not a challenging read, with only 144 pages. I identify Orwell as a classic author, but his writing is easy to read, with not many parables like most classic authors. A big thanks to Bakdi Soekamto for translating it into a very smooth translation!

After reading the book, I concluded that there are two main messages we can learn from it:

1.      Centered power tends to corrupt and abuse.

      It can be seen how, at first, all animals attempted to be free from the oppression of humans (Mr. Jones). But, in the end, under animal rule (Napoleon, a pig), they were oppressed even more than Mr. Jones did. This was a result of centralized power in one person. Separating power can minimize the possibility of corruption and abuse.

2.      Belief and Unity.

The power of belief is quite impressive within the story. Animals, who have nothing compared to human beings with the ability to manage everything, including farming, can be defeated by animals because they have faith in their belief in living a better life by freeing themselves from humans.

Additionally, in terms of power comparison, humans should have been victorious. However, since all animals united to struggle for their dream, animals could defeat people by kicking them out of their own house twice, until the people never returned. And animals achieved their most desired desire, freedom from people.

Btw, there is a quote from the book that struck me hard. Here it is:

“Man is the only creature that consumes without producing. He does not give milk, he does not lay eggs, he is too weak to pull the plough, he cannot run fast enough to catch rabbits. Yet he is lord of all the animals. He sets them to work, he gives back to them the bare minimum that will prevent them from starving, and the rest he keeps for himself.” (Animal Farm, Chapter 1, Page 6) 

hehe, get ur snack and, happy reading all.

See ya! Ciao!


    


Minggu, 19 November 2023

Puisi Bulan November

Aku mengabarkan
Kepada air yang mengalir pelan
Kepada lantunan ayat yang saling bersautan

Aku mengabarkan
Kepada lorong yang bertaut
Kepada angin yang membelai lembut 

Aku mengabarkan
Kepada mentari yang beranjak pergi
Juga, kepada malam yang tak kunjung pagi 

Dengan penuh keputusasaan, 
Aku mengabarkan 

Pergi dari seluruh kenangan
Pergi dari teduhnya tatapan
Pergi dari langkah yang dulu pernah beriringan
Pergi dari cerita yang selalu kau senandungkan 

Demi rindu yang tak pernah dapat jawaban
Demi kasih yang enggan kau perhatikan
Demi penantian sebuah kebahagiaan di tapak jalan depan
Ku sudahi kisah yang ternyata bukan kita
Dengan puisi bulan November.

Senin, 06 November 2023

Sebuah Pengharapan

Aku mengharap
Kau merasa penuh akan seluruh kasih-Nya

Aku mengharap
Kau cukup dicintai dalam segala bentuk cinta paling indah 

Aku mengharap
Ketenangan jiwamu walau pikiranku selalu riuh

Aku mengharap
Keindahan senyummu yang selalu kuabadikan melalui hati

Wahai Tuan,
Atas nama kasih yang tak memiliki ujung
Mengharap akan terus ku kumandangkan
Demi keindahan hidup yang kamu jalani.

Rabu, 01 November 2023

Lie, please

Lie for just now, eyes
His smile is getting wider
His eyes are full of colors

Lie for just now, eyes
His laugh is getting louder
His face is getting red

Please lie for just now, eyes
For all the beauties that were never meant to me.



Hikayat Anak yang Malang

Seketika awan hitam datang Dunianya seolah berhenti, sendirian Tangannya gemetar, matanya terlihat basah Tak berdaya dikejar keabadian. Mung...