Mengenai Saya

Foto saya
Hii, Welcome to my e-mind. Will always share book reviews, opinions on current issues, or even some poetry! 🌻

Jumat, 15 Mei 2020

Mengenal Sejarah Kelahiran Senjata Nuklir Lewat Buku Kuning Ini!!

   Hii!!

Hari ini aku comeback untuk bahas buku lagi nih gais! (cielah, blackpink kali ya wak aku wkwk). Tapi kayaknya udah ketebak kan ya bakalan ngomongin seputar apa, hehe. Yupss kita bakal bahas tentang asal usul atau awal mula terciptanya senjata nuklir di dunia. Sebelum masuk ke isi bukunya, aku mau kasih  sedikit clue nih gais tentang senjata nuklir itu. Jadii senjata nuklir adalah sebuah senjata semacam bom namun memiliki daya ledak yang sangat amat maha luar biasa dahsyat, lebay? iya hehe. Tapi emang semengerikan itu senjata nuklir.

Kalian masih inget kan ya ketika dulu Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada saat Perang Dunia II (PD II)? Iyaa bener banget, hal itu disebabkan karena 2 kota besar di Jepang (bisa dibilang dua kota itu tuh semacem pusat kota gitu loh) dibom oleh Amerika Serikat. Nahh, bom yang digunakan untuk menghancurkan kota Nagasaki dan Hiroshima itu tadi merupakan senjata nuklir pertama di dunia loh, wuihhh!! Jadi sebenernya bom sama senjata nuklir itu sama atau beda si?? Sepemahaman aku dari buku yang akan dibahas nanti itu, disebutkan kalo senjata nuklir itu berawal dari fisi (sebuah konsep dasar yang intinya memuat bahwa pembelahan atom itu dapat melepaskan energi super dahsyat, sehingga ternyata hal ini dapat dijadikan sebagai senjata pemusnah massal, yaitu bom atom), sehingga aku definisikan bahwa bom atom dan senjata nuklir itu sama.

Bingung ya pasti? Maaf yaa, masih penulis amatir nih wak diriku hehe. Tapi tunggu duluu, di buku yang bakal kita bahas ini tuh penjelasannya jelas banget. Makanya biar gak bingung lagi, yuk ah cuss beli atau pinjem bukunya terus baca dehh!!


Okayy, jadi buku yang akan dibahas di tulisan ini ialah buku karangan Steve Sheinkin yang berjudul BOMB. Buku dengan sampul kuning mencolok ini menceritakan pembuatan bom atom oleh Amerika Serikat (AS) untuk mengalahkan Jerman dan sekutunya pada PD II. Kepiawaian Sheinkin dalam penulisannya telah membawa buku ini kepada beberapa penghargaan seperti Newbery Honor Book, Washington Post Best Books of the Year dan beberapa penghargaan lainnya (emang keren woii ini penjelasannya!!). Ngomong-ngomong, buku yang aku baca ini merupakan bentuk yang sudah diterjemahkan karena buku aslinya itu ditulis dalam Bahasa Inggris. Meskipun terjemahan, tapi dijamin kalian bakalan mudah banget mahamin isi bukunyaa, apalagi sampulnya warnanya kuning. LAH? Apa hubungannya coba? wkwkwk SKIPP.


Buku BOMB ini menceritakan bagaimana pertama kali Amerika Serikat (AS) mengetahui tentang ancaman nyata jika saja bom atom saat itu telah dibuat oleh pihak lain. Loh jadi siapa yang pertama buat bom atom? Eits tunggu dulu, sebelum muncul ide untuk membuat bom atom, terdapat fakta baru yang melatarbelakanginya, yaitu penemuan konsep fisi (lihat penjelasan di paragraf 2) oleh dua ilmuwan Jerman, Otto Hahn dan Meitner. Fakta baru tentang konsep fisi pun menyebar ke seluruh negeri, dan para ilmuwan paham bahwa hal itu dapat berubah menjadi sebuah senjata, namun mereka belum tahu pasti bagaimana fisi itu bisa berubah menjadi bom atom. (Wajar lah ya gais, mungkin butuh hitung2an dan percobaan yang amat rumit ya)


Nah karena fisi ditemukan oleh Jerman, AS takut kalo ternyata jerman udah jalan duluan untuk buat bom atom (kan Jerman ni musuhnya AS dalam PD II gais, makanya AS takut diserang pake bom atom buatan Jerman itu kalo dugaan AS itu bener). Akhirnya langsung lah presiden AS saat itu, Franklin D. Rosevelt dengan sigap menyerukan secara diam-diam untuk memfokuskan negaranya kepada pembuatan bom atom (Saat itu AS sedang menerapkan isolasionisme, yang artinya dia gak ikutan perang ketika masa PD II. Makanya dia diem-diem nyiapin giginya kalo sewaktu-waktu diperlukan).

Akhirnya muncullah itu proyek pembuatan bom atom yang diberi nama Proyek Manhattan (Soalnya lab utama dari proyek ini terletak di Manhattan, makanya nama proyeknya begitu gess). Proyek ini diketuai oleh seorang professor fisika genius asal AS, yang sekarang dijuluki sebagai Bapak Bom Atom, yaitu Robbert Oppenheimer. Julukan atas Oppenheimer itu disematkan karena keberhasilannya membawa Proyek Manhattan dalam pembuatan bom atom.

Dalam prosesnya, ada banyak sekali hal menegangkan terjadi seperti kecurigaan agen intelegen Amerika, FBI terhadap loyalitas Oppenheimer terhadap AS, dan juga gerak gerik Jerman yang mengindikasikan adanya pergerakan untuk membuat bom atom juga, serta banyaknya kegagalan dari para ilmuwan di proyek manhattan itu sendiri.

Oiya selain ketakutan akan Jerman kala itu, AS juga memiliki masalah lain, yaitu Uni Soviet. Lah, bukannya AS ama Uni Soviet temenan pada PD II? Iya, mereka emang satu kubu, tapi keduanya tidak benar-benar berteman. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan besar diantara Uni Soviet dan AS, yaitu beda ideologi. Oleh karena itu, AS juga harus berusaha menutupi Proyek Manhattan itu dari pendengaran Uni Soviet. Hal ini menjadi lebih menarik, dikarenakan banyak dilakukan pencarian informasi oleh Uni Soviet terhadap AS atas perilakunya yang mencurigakan, yaitu ketika banyaknya  ilmuan terkemuka AS yang menghilang dari publik. Pencarian informasi itu dilakukan oleh agen mata-mata Uni Soviet yang tinggal di AS. (Ini seru banget ges di bukunya, kerenn bgt kalo jadi mata-mata tuh hehe)

Disisi lain AS semakin ketakutan ketika bahan baku pembuatan bom atom -yaitu air berat- diarahkan menuju Jerman oleh pimpinan negara tersebut, yaitu Adolf Hitler. Karena AS menduga kalo Jerman udah lima langkah dari rumah,  hah? Bukan, maksudnya udh lima langkah di depannya dalam pembuatan bom ataom. Jadi mereka tuh kaya lagi balap-balapan untuk menciptakan senjata mengerikan itu gais. Nah ketakutan AS yang semakin bertambah itu membuat Norwegia ikut bergabung. Norwegia ngapain di sini? Jadi pada saat PD II itu, Jerman menduduki Norwegia, makanya Norwegia ikut gabung sama AS untuk melemahkan Jerman. Peran Norwegia tuh cukup besar loh gais, bahkan menurutku tanpa kehadiran pihak Norwegia, mungkin akan membuat jalan cerita dari kelahiran Bom Atom itu berubah loh

Karena sangat complicated ceritanya dan juga panjang, aku akan beberin sedikit endingnya ya, hehee. AS pada akhirnya dapat membuat bom atom dan segera meluncurkannya ke Jepang. Ko, ke Jepang bukan ke Jerman? Iya soalnya AS dendam, karena Jepang yang saat itu temenan ama si Jerman ini pernah nyerang abis-abisan pangkalan militernya AS yang ada di Pearl Harbour. Makanya pas punya senjata keren, langsung diarahin ke Jepang. Terus gimana perkiraan AS tentang Jerman yang juga buat bom atom? Jadi apa engga? Waduh rahasia itumah, kalian langsung cuss aja cari di bukunya. Last but not least, kesuksesan AS atas bom atomnya itu menandakan awal baru bagi keberadaan senjata nuklir di dunia gais.

FYI nih gais, kalo bom atom atau senjata nuklir itu sangat sangat berbahaya baik bagi manusia maupun bagi lingkungan. Tempat yang pernah dijatuhi nuklir akan memiliki radiasi nuklir yang tinggi, yang mana itu bisa mengganggu atau bahkan mematikan tanaman, hewan, juga tidak baik bagi manusia. Bagi manusia sendiri dapat  menyebabkan kerusakan sel-sel pada tubuh sehingga dapat menyebabkan kecacatan fisik maupun mental. Dampak buruk itu juga tidak hanya ditanggung oleh satu generasi aja gais, tapi bisa juga sampai ke keturunan kita selanjutnya nanti.

Oiya satu lagi, sampai hari ini kalo aku lihat dari laman resmi organisasi internasional yang mengkampanyekan anti-senjata nuklir atau International Campaign to Abolish Nuclear Weapon (ICAN), masih tercatat ada ribuan unit senjata nuklir di muka bumi. Bayangin aja gais kalo seumpama satu nuklir aja bisa menghancurkan separuh negara, terus gimana dengan puluhan ribu senjata nuklir? Hancur ini bumi. Makanya yuk gais kita baca buku BOMB karangan Steve Sheinkin ini, biar kita punya wawasan yang lebih benderang tentang awal mula adanya bom nuklir di dunia. 

Happy reading for u all gais, and really hope can see ur further opinion here. See you!!

Senin, 04 Mei 2020

Review Buku Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur


   Hii!!

Ingin merayakan mukjizat Tuhan karena akhirnya aku dapat beranjak dari kemageran akut yang sudah mandarah daging dengan menulis lagi di blog ini hehe. 
Sejarah munculnya minatku untuk baca buku yang akan aku review ini sebenernya diawali oleh celotehan warga twitter di salah satu fanbase gitu yang memperdebatkan pandangannya terhadap buku ini. Ada yang bilang jangan dibaca karna ini itu, ada yang bilang sangat recommended, dan akhirnya karena penasaran bangett, jadi ya beginilah aku (apaansi anjir hahaha). So, langsung aja uhuy.


Buku kedua yang akan aku review kali ini merupakan sebuah novel fiksi yang sebenarnya terinspirasi dari kisah nyata seseorang. Buku karangan Muhidin M. Dahlan ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2003 oleh penerbit ScriPta Manent. Buku ini meupakan salah satu buku yang cukup fenomenal, 
baik jika dilihat dari judulnya ataupun isinya. Sebenernya nyeritain tentang apansii? Oke kita bahas sekarang, detik ini, saat ini juga!

Novel berjudul Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! ini mengisahkan tentang perjalanan seorang gadis muda yang bernama Nidah Kirani dalam proses perjalanannya dalam dunia spiritualnya. Lika liku dialami oleh Nidah ketika berusaha untuk lebih memahami tentang agama itu sendiri, hingga akhirnya dirinya bergabung dengan salah satu organisasi islam konservatif, yaitu Jemaah. Jemaah merupakan sebuah organisasi illegal yang mana mempercayai sebuah konsep, yaitu untuk menjadi islam secara kaffah (benar), maka harus menegakan adanya Daulah Islamiyah (Berdirinya sebuah negara dengan berlandaskan pada agama Islam).


Sejak ketergabungannya dalam organisasi konservatif tersebut, Nidah menjadi merasa lebih yakin bahwa dirinya menempuh jalan paling benar dalam beragama. Perjuangannya dalam upaya untuk menyebarkan dakwah ajaran organisasinya tersebut sungguh luar biasa, bahkan ia rela menggunakan uang keperluan kuliahnya untuk diberikan kepada Jemaah. Kuatnya tekad Nidah untuk beragama dengan baik pun diperlihatkannya dengan tingginya rasa keingintahuannya untuk mempelajari hal baru terkait akidah dan keyakinannya tersebut.


Namun, keantusias-annya dalam ketergabungannya dengan Jemaah justru mendorong dirinya kepada jurang kekecewaan yang amat dalam. Nidah menemukan fakta baru dimana Jemaah dirasa tidak serius dalam melakukan misinya untuk mendirikan negara islam di Indonesia. Semakin dilihat lebih jauh, Nidah menganggap bahwa Jemaah tidak transparan dan cenderung tertutup atas rencana-rencana kedepannya. (Maklum kan si Nidah ceritanya lagi seneng2nya belajar ilmu agama, jadi dia semangatnya tinggi banget untuk wujudin apa yang dia rasa benar). Sehingga karena hal itu, ia merasa telah dikhianati, lantaran niat tulus dan pengorbanannya untuk bergabung dengan Jemaah mewujudkan cita-citanya itu tidak terbalaskan namun malah terasa seperti dicampakkan.


Kekecewaan itu membawanya pergi dari organisasi Jemaah, namun kepergiannya itu bersama dengan kekosongan yang ikut dengan dirinya. Ia merasa sangat hampa dan kehilangan arah. Ia mengalami stress berat dan bahkan depresi, Ia bahkan takut kalau-kalau menjadi gila. Selama masa kehampaan itu, ia pun juga mulai kehilangan kepercayaannta terhadap kuasa Tuhan. Ia banyak mengutuk tuhan lantaran dianggap tidak membalas kebaikannya yang telah rela untuk mengabdikan dirinya menjadi tentaranya (Astaghfirullah Nidahh, Bapak luu liatt Nidahhh!!).


Besarnya kekecewaan Nidah telah mengantarkannya kepada sisi dunia yang lain, dunia malam yang gelap. Nidah mulai menjadi seorang pemakai obat-obatan dan juga kerap kali tidur dengan lelaki yang berbeda tiap harinya. Kehidupannya perlahan menjadi hancur dan lebih hancur lagi, namun ia merasa bahwa hal ini perlu untuk dilakukan guna menantang Tuhan karena Nidah menanggap tuhan sangat tidak acuh terhadapnya. Tidak ada penyesalan sedikitpun yang dirasakan oleh seorang Nidah Kirani atas perilakunya itu. Ia rela jika kehidupannya menjadi hancur, sebab ia merasa bahwa ini merupakan sebuah bentuk pemberontakannya atas perilaku Tuhan padanya dan ia merasa bahwa dirinya baik-baik saja dan akan tetap begitu (Shombongg kaliii Nidah ni berani2 nantang tuhan, yuk istighfar yuk wankawannn!!).


Nah, garis besar ceritanya kan udah aku beberin nih, aku mau review menurut aku dulu yaaa, nanti kalo kalian udah abis baca buku ini, sharing kesini dong let’s disscuss!

Tingkah laku yang ditampilin oleh seorang Nidah ini merupakan orang yang terlalu mudah untuk mengamini sesuatu sehingga menyebabkan dirinya mudah kecewa. Terlihat ketika dia terlalu mudah untuk bergabung dengan organisasi tanpa dilihat secara lebih luas dan jeli. Maksudku dia itu terlihat sangat saklek, mau cari ilmu agama eh dijejelin cara pandang agama menurut Jemaah langsung masuk gt. Kan seharusnya mencari second opinion dulu gitu untuk membandingkan atau untuk melihat banyak sisi dari organisasi tersebut. Tapi dibukunya begitu, ya, yaudah.


Selain itu, aku juga melihat sepertinya terdapat sebuah satire atau sindiran terhadap banyaknya kelompok ekstrimis agama yang merebak ke kampus-kampus. Sehingga di dalam buku itu digambarkan bagaimana proses ketergabungan Nidah dalam organisasi Jemaah, yaitu dimana dipreteli kepercayaan lama Nidah dan lalu di bangun pondasi-pondasi baru yang sesuai dengan Jemaah. Nah ini juga bisa kita jadiin pelajaran gais, bahwa sebelum bergabung ama suatu organisasi itu ada baiknya dilihat lebih dalam dulu supaya tidak terjerumus ke hal-hal yang enggak diinginkan.


Poin ketiga juga, aku melihat seperti ada kritik sosial yang hendak disampaikan, yaitu tentang kepercayaan yang selama ini berkembang di Masyarakat. Maksudnya? Iya, jadi kaya istilah mengenai apa yang baik dan buruk itu bukanlah sesuatu yang berarti makna sesungguhnya. Melainkan baik dan buruk itu sesuatu yang diciptakan oleh masyarakat itu sendiri. Ya walaupun demikian adanya, namun aku tetep seneng dengan adanya norma sosial yang berlaku ini, karena bisa menjaga dan menciptakan rasa aman dari kita.


Melalui karakter Nidah juga, diperlihatkan tentang adanya keinginan untuk menjadi bebas dan penentu atas dirinya. Penentu disini menurut penulis menjadi terlihat cukup ekstrim ketika Nidah beranggapan bahwa manusia merupakan setengah Tuhan. Mungkin jika dikatakan bahwa manusia juga sedikit banyak ikut bertanggung jawab dalam penentuan nasibnya, aku setuju, tapi kalo dibilang kita ini setengah tuhan, aku mau nangessss.


Udah segitu dulu, nanti bisa buat skripsi lama-lama aku ngetik (alay najong) hehe. Tulisan ini merupakan opini ku semata terkait buku Tuhan Izinkan AKu Menjadi Pelacur!. Meskipun terdapat kritikan yang aku sampaikan, gak berarti aku benci bukunya, karena ada sisi positif juga dari substansi buku ini. Aku hanya sedang berusaha untuk menjaga atau bahkan meningkatkan daya kritisku di tengah pandemic ini. Kalo kalian udah baca bukunya, yuk dikusi atau kritik opini aku disini. Hope to see u soon!!

Sabtu, 21 Maret 2020

Sedikit Gambaran Buku Berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodoamat


Prinsip “Do Something” yang baru aku pahami akhirnya membawa jemari kecilku untuk menuliskannya di blog ini, ditemani cuaca gerimis di depan rumah, lengkap dengan segelas teh anget buatan bunda. Hehe


Pada tulisan pertamaku di blog ini akan memberikan sedikit ringkasan tentang buku yang baru banget aku baca. Yups bener banget judulnya Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat oleh Mark Manson. Buku ini sempet popular beberapa waktu belakangan dan bahkan sempat menjadi buku terlaris versi New York Times dan Globe and Mail loh. Buku yang aku baca ini sebenarnya merupakan buku yang sudah diterjemahin, karena sebenernya buku aslinya itu judulnya The Subtle Art of Not Giving Fuck. Jadi bukunya sebenernya ngebahas apa sih? Oke so here we go!




Buku dengan sampul berwarna oren mencolok ini sebenarnya sebuah buku yang banyak mengulas tentang nilai dan pelajaran hidup yang bersumber dari pengalaman sang penulis buku itu sendiri. Sesuatu yang unik menurutku ialah ketika banyak pemikiran Manson dalam buku itu yang sangat berbanding terbalik dengan narasi yang selama ini banyak dipercayai masyarakat.


Dari judulnya telah membuat banyak orang tersenyum penasaran, sebenarnya Manson beranggapan demikian karena menurutnya kita saat ini tengah hidup pada masa dimana sangat mudah untuk melihat dan mencari tahu tentang suatu informasi, sehingga membuat kita cenderung merasa menjadi seseorang yang paling buruk, paling tidak beruntung, dan banyak kutukan lainnya kepada diri kita sendiri. Selain itu manusia merupakan makhluk yang memiliki keterbatasan dalam kepeduliannya.


Maka dari itu kita dituntut untuk tidak membagikan kepedulian kita layaknya seorang penjual es krim. Maka dari itu kita harus tahu betul mana yang masuk kedalam daftar yang mendapatkan perhatian lebih dari kita. Bukan berarti menjadi manusia tang tidak auh terhadap sekitar, namun lebih kepada pemahaman yang tepat dan kuat atas apa yang menjadi prioritas kita. Maka dari itu kita harus berani untuk bersikap bodoamat kepada hal atau nilai yang yang tidak masuk dalam prioritas untuk kita pedulikan.


Selain itu juga Manson juga percaya kalo hidup ini adalah sebuah rentetan masalah. Ko gitu? Iya jadi menurutnya masalah itu gaakan pernah hilang dalam hidup ini (emang bener juga si). Ketika kalian memiliki permasalahan maka kalian akan berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut hingga akhirnya masalah tersebut usai, namun setelah itu kalian malah akan menemukan masalah baru di depan. Ini akan selalu berlanjut seperti itu dalam kehidupan semua orang. Tapi juga, menurut Manson justru kebahagiaan akan kita temukan disini. Dimana? Ya ketika kita sedang memecahkan masalah yang kita punya. Karena menurutnya kebahagiaan merupakn sebuah tindakan, bukan sesuatu yang diam sambil mematung. Jadi kekita kita sedang mengatasi atau memecahkan masalah kita, disitulah letak kebahagiaan. Jadi yuk dibawa enjoy, Namanya juga hidup selalu ada masalah pasti, hehe.

Pria yang saat ini tinggal di New York tersebut juga mengatakan bahwa jika kita telah berhasil dalam menjadi bodoamat terhadap nilai-nilai yang bukan prioritas kita, maka tentu saja kita akan menjadi lebih peduli terhadap nilai-nilai positif, sehingga nantinya permasalahan yang akan datang kepada diri kita adalah masalah-masalah yang baik.

Banyak dari kita yang pasti sering ngelakuin kesalahan, dan tentunya kita harus bertanggung jawab atas kesalahan kita. Nah si Manson ini juga membahas hal ini di bukunya, yaitu mengenai kesalah kaprahan tentang hubungan antara tanggung jawab dan kesalahan. Menurut beliau selama ini kesalahan dan tanggung jawab hampir selalu tampil secara bersamaan. Sehingga akhirnya banyak orang yang enggan bertanggung jawab atas permasalahan mereka, karena mereka percaya bahwa jika kita mengambil tanggung jawab akan suatu permasalahan, maka nantinya kita akan menjadi pihak yang dipersalahkan. Padahalll menurut Manson ini sebenernya tanggung jawab dan kesalahan adalah dua hal yang berbeda, dimana kesalahan merupakan hal yang sudah terjadi karena pilihan yang kita ambil makanya kesalahan itu bersifat lampau.  Sedangkan tanggung jawab ialah pilihan yang sedang kita ambil pada saat ini juga.


Adanya dua perbedaan yang cukup jelas tentang kesalahan dan tanggung jawab, maka Manson juga memaparkan bahwa terkadang kita juga harus mengambil tanggung jawab atas kesalahan yang bukan kita perbuat. Kok gitu? Hmm iya, yaudah biar mudah pahaminnya, lihat contohnya nih ya

Pacar pertamaku mencampakkan aku, padahal aku sangat menyayanginya. Ia berselingkuh dengan temanku sendiri, kan sakit banget yaaaa. Ketika aku minta penjelasan malah aku diputusin gitu aja. Hm nelangsa bangetlah itu aku pokoknya. Nah kalo kasusnnya begini kan ini bukan kesalahan aku, karena yang selingkuh dia dan bahkan dengan temanku sendiri, tapiiii disini aku tetep dituntut untuk bertanggung jawab atas perasaan nelangsa yang aku rasain itu. Makanya aku berusaha untuk memutuskan move on dari doi supaya aku keluar dari perasaan nelangsaku itu. Gimana caranya? yaa akhirnya aku memperbanyak kegiatan bersama orang-orang terkasih di sekitarku sampe akhirnya aku bisa move on dan bahagiaaaa.

Nah jadi begitu maksud bahwa terkadang kita juga harus bertanggung jawab atas kesalahan yang orang lain buat. Udah paham kan yaa? Kalo gak paham mending langsung cuss baca bukunya ajaa! Seruu bangett.


Nah nilai terakhir yang mau aku bagiin lagi adalah tentang prinsip Do Something. Gimana tuh? Iya jadi kata Manson kalo kamu lagi bingung mau ngerjain apa, atau malah kebanyakan kerjaan dan jadi bingung mau mulai dari mana, mendingan langsung aja lakukan sesuatu, apapun itu (dalam koridor yang positif ya). Karena dengan suatu hal yang kamu lakuin itu nantinya malah kamu akan terinspirasi terhadap hal baru, abis itu termotivasi hingga akhirnya kamu mulai ngerjain hal baru kamu inspirasiin tadi, eh tiba-tiba malah ketemu sesuatu baru lagi yang mengusik ketertarikan kita.

Hal ini menurut Manson akan  selalu terjadi berulang hingga membentuk suatu lingkaran setan (Haha ko setan ya, ntahlah). Nah tapi menurut aku, prinsip do something ini emang bener terbukti loh, bahkan di diri aku sendiri. Membaca bukunya Manson ini hanya karena lagi gabut aja, tapi malah jadi kebablasan sukaa dengan nilai-nilai yang dia tulis di bukunya itu. Karena hal yang aku awali karena just do something without any reason, and finally I’m trying to writing the resume of this book to this blog! Jadi temen-temen jangan lupa langsung di aplikasiin prinsip Do Somethingnya!


Beberapa penjelasan mengenai nilai dan pelajaran diatas sebenarnya hanya sebagian kecil dari buku Mark Manson ini. Dibukunya itu sendiri ada lebih banyak lagi pelajaran yang bisa kita dapet lohh, udah gitu Manson ini banyak memasukkan kisah-kisah yang penuh makna gitu, yang mana akhirnya ngebuat kita lebih mudah untuk memahami pesannya. Oiya sama mau kasih saran kalo baca buku ini pliss sampe akhir, karena setelah baca bab terakhirnya itu akhirnya memperjelas kenapa Manson cara berpikirnya demikian. Makanya jangan lupa baca bukunya ya temen-temen!

Thanks and see u everyone to the next article!! 

Hikayat Anak yang Malang

Seketika awan hitam datang Dunianya seolah berhenti, sendirian Tangannya gemetar, matanya terlihat basah Tak berdaya dikejar keabadian. Mung...