Tangannya gemetar, matanya terlihat basah
Tak berdaya dikejar keabadian.
Sinopsis ringkas
Berlatar pada tahun 1920 an di kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, kisah ini bermula ketika saudagar kaya raya bernama Engku H. Ja’far membeli rumah besar yang ada di wilayah tempat Hamid tinggal bersama mamanya. Engku H. Ja’far, istrinya dan juga Zainab -anak perempuan satu-satunya yang sepantaran dengan Hamid- memiliki budi yang sangat baik, kerap kali membantu siapapun yang kesusahan. Hamid merupakan salah satu warga desa yang dibantu oleh H. Ja’far, yaitu disekolahkan. Dengan begitu, besar rasa hormat yang diberikan oleh Hamid kepada H. Ja’far dan istrinya, yang kerap dipanggil Mak Asiah oleh Hamid.
Hamid pergi ke sekolah yang sama dengan Zainab, dan persahabatan di antara keduanya tentu tak dapat terelakan lagi. Banyaknya waktu bermain yang dihabiskan oleh mereka berdua ternyata menjadi suatu kekuatan, yang mampu menimbulkan benih-benih ketertarikan oleh keduanya. Semakin beranjak dewasa, Hamid mulai menyadari bahwa ada jurang besar antara dirinya dengan Zainab terkasih. Jurang yang rasanya terlalu sulit ditembus oleh Hamid, iya, status sosial dan ketimpangan ekonomi keduanyalah yang menjadi penghalang dari ketulusan cinta keduanya.
“Jangan
kau turutkan hatimu, sampai kapanpun emas takkan setara dengan loyang, sutra
takkan sebangsa dengan benang” -Mamak Hamid
Supaya tidak spoiler secara terang-terangan, kiranya
akhir kisah cinta antara Hamid dan Zainab ini sangatlah realistis, dan tragis,
dan suci, dan abadi.
Novel
Novel berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah merupakan karangan
seorang ulama besar Indonesia dan juga sastrawan Haji Abdul Malik Karim
Amrullah, atau lebih dikenal dengan Buya Hamka. Novel ini pertama kali
dipublikasikan pada tahun 1938 oleh Balai Pustaka, penerbit nasional Hindia Belanda. Buku
fiksi ini memiliki 13 bab dengan total 91 halaman di dalamnya. Menurut hemat
penulis buku ini kurang lebih hanya membutuhkan waktu 1-2 jam saja untuk
menyelesaikan keseluruhan cerita.
Kisah yang termuat dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah ini sarat akan budaya minang, mulai dari penggunaan sebutan engku untuk menyebut H. Ja’far, dimana menurut KBBI disebutkan bahwa engku dapat bermakna sebagai kata sapaan kepada orang yang patut dihormati. Juga menggunakan sebutan abang yang berarti kakak laki-laki, dan juga Mak yang sebenarnya merupakan singkatan dari mamak.
Selain cerita yang sungguh amat dikagumi, Buya Hamka juga banyak menggunakan kata Bahasa Indonesia yang menurutku saat ini sudah mulai jarang digunakan dalam keseharian, seperti saya, engkau, hendak, jongos, beroleh, anakanda, permenungan, alang, menyabarkan, mempertalikan dan masih banyak lagi diksi indah lainnya, wah Buya maafkan saya terlalu telat mengenal karyamu. Masih dalam situasi terkagum, mengingat usia novel ini yang sudah lebih dari 80 tahun, namun karyanya masih saja digemari oleh banyak generasi hingga saat ini, maka tak heran kalau nama Buya Hamka masih banyak diperbincangkan oleh banyak orang meskipun raganya telah lama pergi menuju sang Khaliq.
Film
Seperti kebanyakan novel yang memiliki banyak sekali
penggemar, Di Bawah Lindungan Ka’bah juga akhirnya diadaptasi menjadi sebuat film
layar lebar oleh rumah produksi MD Pictures, dan disutradarai oleh Hanny R.
Saputra. Film romansa ini dirilis pada tahun 2011. Film dengan durasi 121 menit ini ditargetkan
untuk meraih 7 juta penonton, namun hingga akhir penayangannya, film ini hanya
mendapatkan 520 ribu penonton. Meskipun demikian film ini sempat diajukan sebagai
perwakilan Indonesia pada Academy Awards ke-84 untuk kategori Film Berbahasa
Asing Terbaik, namun Di Bawah Lindungan Ka’bah tidak berhasil untuk masuk
nominasi akhir.
Menurut hemat penulis, sinematografi dalam film ini
sungguh memukau, serta didukung oleh aktor Indonesia yang tak perlu diragukan
lagi bakat aktingnya. Hamid diperankan oleh Herjunot Ali, dan Zainab diperankan
oleh Laudya Cynthia Bella. Bagaimana komposisi, angle, efek yang digunakan,
pencahayaan serta background music yang menurutku, ‘perfectly fit’. Meskipun
memang cerita dalam film tidak sama persis dengan apa yang ada di dalam novel,
namun menurut penulis, film ini tetap mampu menyajikan alur cerita yang menarik
hingga akhir.
In conclusion, penulis tidak dapat memilih antara film atau novel. Keduanya memiliki kelebihannya yang mana membuat karya tersebut unik dan spesial dalam kategorinya masing-masing. Novel, sudah menjadi rahasia umum bahwa melalui tulisan tentu pembaca memiliki kesempatan untuk melihat dan merasakan lebih dalam terkait emosi dan juga kompleksitas yang terjadi dalam sebuah cerita. Selain itu ada banyak sekali kata-kata indah nan penuh makna yang dilontarkan oleh Buya Hamka melalui novelnya ini.
Disisi lain film yang disuguhkan oleh MD Pictures lumayan berbeda dengan alur novel, penulis menduga hal tersebut dilakukan demi kebutuhan komersil, sehingga ditambahi scene yang sedikit modern supaya dapat menarik lebih banyak penonton. Namun secara garis besar jalan cerita keduanya masih sejalan serta akting para aktor yang terlibat di dalamnya mampu membawa penonton larut dalam kisah Hamid dan Zainab.
“All animals are equal, but some animals are more equal than others”
What
a strong satire the book is! Hahaha. I did not expect that this book would be
so much fun and amazing to read at all! Okay as written on the title, this is
“Animal Farm” by Geroge Orwell (his real name is Eric Arthur Blair). The original
version of it is in English, but along the time, it has been translated into many
languages and versions as well. Regarding to Gramedia Blog, it says that the
title of the book could be changing in following the translation itself. In
Bahasa Indonesia version, it was translated by Bakdi Soemanto and published by
Penerbit Bintang. But I read the e-book version which was disseminated by Mizan
Digital Public.
It
is one of his famous books and is still being read by people nowadays. There was
a saying spread over the internet that talked about how through this novel, Orwell
attempted to satirize the Russian revolution, but I cannot find any short of Orwell’s
own perspective regarding it. Regardless of that, the book with 10 chapter and 144 pages itself has a
lot of things and values that were still relevant up to now. Orwell puts
animals to completed his allegory novel.
The story was begun in the Manor Farm,
owned by a man named Mr. Jones. There were a lot of animals living in the Manor
Farm, pigs were described as the most brilliant than other animals which brought
the pigs to be a leader of the group. Also, there were chickens, horses, mouses,
cats, dogs, cows, and donkey. They were living in the same and usual habit
before the old major which is the oldest pig in the farm told to the whole animals
in a gathering room about his mind of revolution. The old major said that the
life they were living is not fair at all, since animals need to work and produce
more than they think they deserved and benefit from. And, all animals agree
that they need no any masters, all they need is the independence.
Three days later, the old major died, before the revolution even started. His mandate automatically carried on by other pigs in the Manor Farm, there were 3 candidates appeared they were Snowball, Napoleon, and Squealer. A few months later, the revolution had just happened, Mr. and Ms. Jones, and their employees run away due to the attack by animals. And here is the begining of animalism. As a part of the revolution, the three of pigs started in crearing seven commandments that dictate the principle of animalism. These were painted on the side of the barn, so everyone can see it clearly (even though just some of the animals who can read. one of them is Benjamin, a donkey).
Napoleon started his government with a lie, and he kept
lying about many things. He began to break the commandments for various
reasons. He was no longer living in the barn but in Mr. Jones's rooms. He had a
dog-watch that he raised to protect him and other pigs as well. He drank and
ate with cutlery in the kitchen. He raised and treated piglets better than
other animal children. He broke all the rules until the last and the worst
thing he did was add Commandment No. 7, written as 'All animals are equal, but
some animals are more equal than others.'
I believe that the novel is very worth your time. Also, it is not a challenging read, with only 144 pages. I identify Orwell as a classic author, but his writing is easy to read, with not many parables like most classic authors. A big thanks to Bakdi Soekamto for translating it into a very smooth translation!
After reading the book, I concluded that there are two main
messages we can learn from it:
1. Centered power tends to corrupt and abuse.
It can be seen how, at first, all animals attempted to be free from the oppression of humans (Mr. Jones). But, in the end, under animal rule (Napoleon, a pig), they were oppressed even more than Mr. Jones did. This was a result of centralized power in one person. Separating power can minimize the possibility of corruption and abuse.
2.
Belief
and Unity.
The
power of belief is quite impressive within the story. Animals, who have nothing
compared to human beings with the ability to manage everything, including
farming, can be defeated by animals because they have faith in their belief in
living a better life by freeing themselves from humans.
Additionally,
in terms of power comparison, humans should have been victorious. However,
since all animals united to struggle for their dream, animals could defeat
people by kicking them out of their own house twice, until the people never
returned. And animals achieved their most desired desire, freedom from people.
Btw, there is a quote from the book that struck me hard.
Here it is:
“Man is the only creature that consumes without producing. He does not give milk, he does not lay eggs, he is too weak to pull the plough, he cannot run fast enough to catch rabbits. Yet he is lord of all the animals. He sets them to work, he gives back to them the bare minimum that will prevent them from starving, and the rest he keeps for himself.” (Animal Farm, Chapter 1, Page 6)
hehe, get ur snack and, happy reading all.
See ya! Ciao!
Aku mengabarkan
Kepada air yang mengalir pelan
Kepada lantunan ayat yang saling bersautan
Aku mengabarkan
Kepada lorong yang bertaut
Kepada angin yang membelai lembut
Aku mengabarkan
Kepada mentari yang beranjak pergi
Juga, kepada malam yang tak kunjung pagi
Dengan penuh keputusasaan,
Aku mengabarkan
Pergi dari seluruh kenangan
Pergi dari teduhnya tatapan
Pergi dari langkah yang dulu pernah beriringan
Pergi dari cerita yang selalu kau senandungkan
Demi rindu yang tak pernah dapat jawaban
Demi kasih yang enggan kau perhatikan
Demi penantian sebuah kebahagiaan di tapak jalan depan
Ku sudahi kisah yang ternyata bukan kita
Dengan puisi bulan November.
Lie for just now, eyes
His smile is getting wider
His eyes are full of colors
Lie for just now, eyes
His laugh is getting louder
His face is getting red
Please lie for just now, eyes
For all the beauties that were never meant to me.
Iya betul, Di Tanah Lada itu judul novel ini. Buku yang dikarang oleh Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie ini telah memenangkan peringkat kedua dalam Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Kemudian pada bulan Agustus 2015, cerita ini dipublikasikan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama. Secara sekilas mungkin cover novel ini terlihat sederhana, namun setelah merampungkan novel ini, menurut gue ilustrasi perempuan kecil dengan gaun merah pada cover depan terlihat seperti memancarkan kepiluan yang dalam.
Gimana engga, lha wong novel dengan ketebalan
244 halaman ini menceritakan tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), udah
gitu narrator dalam novel ini seorang anak perempuan berusia 6 tahun. Segala
bentuk kekerasan yang enggak hanya dialami oleh ibunya, tapi juga dirinya sebagai
anak di dalam rumah dipaparkan pada novel ini. Hal yang buat gue banyak bicara
tentang pilu dalam novel ini dikarenakan anak perempuan berusia 6 tahun tadi
yang bernama Salva (panggilannya Ava) dengan segala kepolosan dan keluguannya
menceritakan tentang kekerasan yang terjadi di keluarganya.
Menurut gue si penulis itu cukup
konsisten mengenai kedalaman karakter tiap tokohnya, sehingga meenjadikan
alurnya menjadi cukup realistis untuk dibayangkan. Ada satu catatan menurut gue
pribadi mengenai sosok Ava ini, dimana sedari awal karakternya yang sangat sering
dengan mudahnya teralihkan dari hal yang sedang diceritakannya kepada hal lain
yang tidak ada hubungannya dengan main idea nya di awal, itu bagus, karena
memang semua anak kecil begitu. Namun karena cukup sering ditampilkan karakter 'mudah teralihkannya' tadi, juga dengan pola yang
sama membuat pas baca part 'ngelantur' nya Ava terkadang gue skip. IMO
akan lebih baik kayaknya kalo ngelanturnya si Ava ini tuh ada makna tersirat giru, mengingat kondisi dia yang sangat tidak apa-apa dengan kehidupannya sebagai anak kecil.
Tidak berniat untuk spoiler, tapi
jujur gue engga membayangkan akhir ceritanya akan demikian. Tapi setelah gue resapi
kembali, akhir dari cerita pilu kehidupan anak-anak ini mungkin saja terjadi.
Anak-anak cenderung belum dapat mengatur emosinya dengan baik, dan juga belum
mampu untuk berpikir dengan jernih. Selain itu juga kesedihan dan kesengsaraan
yang selama dihadapi oleh anak sekecil itu yang seharusnya memiliki kehidupan
yang aman dan menyenangkan untuk hidup membuat akhir cerita ini jadi cukup realistis, walaupun gue yakin kebanyakan pembaca tidak berharap demikian. Perlu diketahui juga arti dari judul novel ini menurut Ava ialah Tanah (yang penuh akan/ melahirkan banyak) Kebahagiaan.
Menurut gue novel ini sangat asik
untuk dibaca pada malam hari, yaitu ketika hening berkeliling, supaya nada
kepiluan dari novel ini dapat tersampaikan dengan apik. Cukup ringan namun
penuh makna. Karena terdapat beberapa kalimat yang gue rasa bagus, gue akan
tulis sebagian disini. Don’t forget to enjoy the book guise and spread our
loves to every child around us ya! Jangan lupa juga untuk sayangi penulis dengan
cara untuk tidak membeli, tidak menyebarkan dan tidak membaca yang bajakan.
“Bacalah
banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton
televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci.
Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang
tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi,
kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut”
“Yang
lebih penting dari bertutur kata baik adalah bertutur kata dengan tepat”
“Tidak
ada yang bisa tahu apa yang kamu rasakan - sayang atau tidak - kalau kamu tidak
mengatakan, atau menunjukkannya dengan benar”
Salah
satu buku Mochtar Lubis yang wajib dibaca lagi adalah novelnya yang berjudul
Senja di Jakarta. Tebit pertama kali dalam versi bahasa inggris pada tahun
1963, kemudian baru pada tahun 1970 diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh
Yayasan Obor Indonesia. Memiliki cover yang cukup sederhana, yaitu lukisan
siluet orang sedang merentangkan tangannya, namun isi cerita, penokohan, gaya
bahasa, pesan, semua-muanya bagus! Ah, satu hal, Mochtar Lubis lagi-lagi
berkata jujur melalui karya-karyanya tentang kondisi masyarakat yang tidak
baik-baik saja. Siapa gak jatuh cinta coba?!
Novel
ini berlatar di Ibukota pada tahun 1950-an. Singkatnya menceritakan bagaimana
kehidupan masyarakat Ibukota menjalani kehidupannya sehari-hari pada 1950-an,
namun tidak semudah itu ferguso! Pelik sekali aspek yang dibahas sama Mochtar
Lubis dalam novelnya ini. Dibahas bagaimana kehidupan tukang ambil sampah di
Jakarta, dibahas pula kehidupan PNS di beberapa kementerian, diskusi geng para
pemuda cendikiawan dengan beragam aliran berlangsung, sisi gelap media, hingga
gimana petinggi partai cari uang untuk mengurus kehidupan seksnya yang liar. Ditelanjangi
betul lah penduduk Jakarta disini hahaha.
Terdapat banyak tokoh yang bermain dalam novel fiksi ini, namun dengan kelihaian Mochtar Lubis, pembaca bisa mengenali dengan baik karakter satu persatu dari tiap tokoh yang ada. Banyak yang mengatakan dalam resensi yang berkeliaran di internet mengenai buku ini, bahwa buku ini menceritakan tentang bagaimana seorang Pemilik Media dengan sikap oportunisnya memanfaatkan partai besar yang sedang menjabat. Tapi, menurut gue, pernyataan tadi itu tidak sepenuhnya benar. Melihat pada kompleksitas cerita, kuatnya karakter dari tiap tokoh, kejelasan nasib tiap tokoh sangat detil bahkan semua tokoh saling berkaitan antara satu dan lainnya, maka menurut gue semua tokoh di buku ini itu tokoh utama di ceritanya masing-masing, hahaha. So, guys what do u think? Write down ur opinion on the comment box. If u haven't read it yet, let’s grab this book now, and find out ur answer!

Buku Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life ini merupakan bacaan yang cukup populer, bahkan pada sampul depannya diklaim sebagai The International Bestseller loh. Buku yang ditulis oleh Hector Garcia dan Frances Miralles sudah diterjemahkan dalam banyak bahasa, salah satunya bahasa Inggris dan memiliki tebal sebanyak 208 halaman. Nuansa Jepang dalam buku ini tersajikan cukup apik dan sederhana, yaitu dengan keberadaan gambar bunga Sakura pada sampul depan buku ini.
Substansi bacaan ini sebenarnya
sudah tergambar dengan jelas melalui pemilihan diksi pada judul yang digunakan,
yaitu pola hidup masyarakat Jepang -khususnya kota Okinawa- yang memiliki harapan
hidup lebih lama dan bahagia. Dari beberapa kebiasaan yang dipaparkan dalam
buku ini, penulis buku ini berusaha untuk lebih menekankan konsep Ikigai sebagai
faktor yang cukup dominan untuk memiliki hidup yang lebih panjang dan bahagia.
Dari 9 bab yang ada, menurutku ada
satu dari sekian hal penting yang coba disampaikan oleh penulis terkait rahasia
memiliki umur panjang, yaitu build great and strong relations among citizen.
Hal ini dapat dilihat ketika penulis banyak menggambarkan ekspresi atau
perasaannya dengan cukup detail terhadap kegiatan sosial yang ada di Okinawa.
(Sampe gue sebagai pembaca bisa ikut merasakan kuatnya hubungan kekeluargaan di
wilayah Okinawa, hihii)
Selain itu juga poin menarik lainnya
dari buku ini ialah pengingat untuk selalu menemukan flow dalam apapun
yang kita lakukan. Meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit mengenai
pengertian flow ini, tapi penulis mencoba menjelaskannya melalui
beberapa contoh yang dipaparkan. Flow dalam buku ini gue pahami sebagai
kesatuan yang harmoni antara pikiran jiwa dan raga manusia. Maksudnya ialah
ketika kita melakukan suatu hal, maka kita secara penuh (kesatuan pikiran, jiwa
dan raga) dan sadar berada pada momen dan hal yang sedang kita kerjakan. Gak
perlu mengkhawatirkan masa yang akan datang, pun tidak menyesali masa yang
sudah berlalu, cukup disini saja untuk menikmati saat ini. Karena dengan begitu
dapat memungkinkan kita untuk menemukan Ikigai kita.
Kritik yang cukup krusial untuk buku ini menurut gue ialah kurang matangnya definisi konsep ikigai oleh si penulis. Di satu sisi tidak dijelaskan apa itu ikigai menurut pandangan penulis buku, juga tidak ada batasan mengenai konsep ikigai ini. Sehingga menurut gue penulis menjadi tidak konsisten terhadap arti dari ikigai yang mereka gunakan. Terkadang ikigai dimaknai sebagai tujuan hidup atau hal yang membuat hidup kita bermakna, namun di sisi lain penulis juga mengartikan ikigai sebagai hal sederhana yang membuat kita bahagia dan puas akan hidup ini, dan pada bab awal buku ini disajikan pengertian ikigai melalui diagram di bawah ini

Menurutku
ini cukup krusial, mengingat bahwa penulis menekankan ikigai sebagai
faktor yang berperan besar untuk menjadi panjang umur, yang mana berarti
merupakan inti buku ini.
Selain
itu juga menurut gue pribadi, ada beberapa part dari buku ini yang mungkin lebih
baik jika tidak dimasukkan, yaitu gambar bagaiman gerakan beberapa olahraga.
Meskipun
begitu, buku ini cukup ringan untuk dibaca, dapat menyadarkan beberapa hal
sederhana yang kerap luput oleh kebanyakan orang. Sehingga dengan membaca buku
ini bisa jadi jeda untuk kita merefleksikan nilai dan makna hidup ini.
If u guys find this writing, means that u have had an interest for this book. I
tell u, go ahead, it’s a great book to read, I promise!
About the question on the tittle, I hope u can get your own answer.

Apakah yang harus kita
punyai, agar kita bebas dari ketakutan?
Kira-kira begitulah buku ini dibuka dengan
sepenggal kalimat tanya di atas. Pertanyaan yang singkat, namun mungkin banyak
dari kita belum menemukan jawabannya sampai saat ini. Apalagi pada era digital kini,
data, informasi, kesempatan terbuka sangat luas hingga kadang dunia cenderung dijadikan
ajang kompetisi bagi insannya. Karena itu banyak orang takut, khawatir pada banyak
hal, kemudian mendadak ndak bisa tidur hingga subuh (Siapa hayo?).
Namun, ketakutan yang dimaksud oleh Mochtar
Lubis dalam novelnya yang berjudul Jalan Tak Ada Ujung ini bukanlah
demikian. Ketakutan yang dimaksud ialah ketakutan yang dirasakan oleh para pejuang
pada masa revolusi, atau sekitar tahun 1946-an. Jakarta yang dijadikan latar
tempat dalam cerita ini digambarkan sebagai kota yang sangat mencekam, dimana kekerasan
bahkan pembunuhan terhadap masyarakat bisa dilakukan dengan bangga oleh tentara
sekutu. Maka dari itu ketakutan menyelimuti banyak masyarakat Jakarta pada masa itu. Terutama, ketakutan luar biasa diberikan kepada salah satu tokoh utama
dalam novel ini, seorang guru di salah satu SD di Tanah Abang -yang juga ambil peran dalam perjuangan Indonesia kala itu-, Guru Isa
sapaannya. Namun ketakutan Guru Isa sedikit termanipulasi akibat kehadiran Hazil
sebagai sosok pemuda yang semangatnya membara untuk mejadi pionir perjuangan
pembela rakyat.
Semangat Hazil yang kuat dan teguh untuk
meraih kebebasan kemerdekaan merupakan gambaran sosok pahlawan yang tertanam pada
banyak masyarakat. Namun, dalam novelnya kali ini, Mochtar Lubis sepertinya
berusaha untuk mengkritik paradoks tentang sosok karakter pejuang yang selama ini kita pahami. Bahwa dengan segala himpitan situasi seperti buruknya keadaan ekonomi, hilangnya rasa aman, sulitnya pergerakan perjuangan akhirnya mampu membuat pahlwan bertindak kriminal. Seperti adegan yang ditampilkan oleh Lubis ketika Guru Isa yang dihimpit
oleh kebutuhan hidup akhirnya berani untuk mencuri buku dari sekolah tempatnya mengajar untuk dijual di Pasar terdekat dan memberikan uang tadi kepada Fatimah, istrinya.
Selain itu banyak diantara masyarakat dalam novel ini diperlihatkan yang dalam diamnya namun menangisi runtuhnya kolonialisme Belanda dan Jepang di Indonesia.
Hati kecilnya (segelintir orang pribumi) berharap kolonialisme dapat diteruskan,
sehingga kejayaan hidupnya dapat berlanjut. Miris memang pemikiran ini terngiang
di hati masyarakat mengingat sebagian saudara se-tanah air diperlakukan bengis
bak hewan.
Tidak berhenti disitu, sosok karakter
pahlawan -Hazil- yang banyak dicintai pembaca pada awal cerita ini pun
mengkhianati pengagumnya. Hazil memiliki api asmara pada Fatimah, istri Guru
Isa. Yang lebih menyedihkan ialah kobaran semangat perjuangan yang dimiliki
Hazil selama ini akhirnya redup pada akhir cerita, bahkan dirinya menyerah pada
dirinya sendiri dan mengkhianati kawannya. Hebat betul Mochtar Lubis ini
mengguncang pembacanya, haha.
Namun meskipun demikian, Mochtar Lubis
melalui tokoh Guru Isa memberikan pesan yang cukup mendalam. Bahwa ketakutan pada
sesuatu itu akan selalu ada pada tiap dari kita, maka dari itu untuk terus hidup, kita memang dituntut untuk bisa berdampingan dengan rasa takut. Karena dengan begitu, kita dapat bertahan hidup dengan juga selalu berproses menjadi versi yang lebih baik lagi.
Meskipun menurut gue gaya penulisan Lubis
dalam novel ini cukup kaku, tapi ini bisa dimengerti karena mengingat novel ini
ditulis pada masa yang yang cukup lampau. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1952
oleh Balai Pustaka. Betapa beraninya Lubis mengarang cerita se-vulgar ini pada
masa itu, maka dari itu novel setebal 167 halaman ini sangat gue rekomendasiin
masuk ke dalam daftar bacaan lo!
Novel
Perempuan di Titik Nol merupakan karya buatan Nawal El-Saadawi yang mana
bukan merupakan karya fenomenal pertamanya, sebab beberapa bukunya -yang hampir selalu bernada feminis- sudah dilarang terbit di negara asalnya sendiri, Mesir. Hal
tersebutlah yang akhirnya menyebabkan novel ini diterbitkan di Lebanon pada
tahun 1973. Kemudian buku ini banyak menarik minat masyarakat dunia untuk
membacanya, lalu buku ini banyak diterjemahkan dalam bahasa asing lainnya,
salah satunya bahasa Indonesia. Di Indonesia sendiri, buku ini diterjemahkan
oleh Amir Sutaarga dan diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Cetakan
pertama buku ini dilakukan pada tahun 1989, namun penulis (blog) membaca cetakan kesebelas
yang mana diterbitkan pada tahun 2014.
Novel dengan tebal 175 halaman ini benar-benar
menggambarkan bagaimana tradisi patriarki yang mengakar kuat di Mesir telah
memakan korban nyata yaitu seorang perempuan bernama Firdaus. Kisah pilu kehidupan
Firdaus dalam novel Perempuan di Titik Nol ini berasal dari kisah nyata
yang kemudian sedikit dibumbui oleh Saadawi agar menjadi sebuah novel yang dapat
dinikmati pembaca.
Firdaus diceritakan sebagai perempuan
yang memiliki jalan hidup yang sangat terjal dan menyakitkan. Kehidupan dengan
ekonomi yang buruk, tradisi mengagungkan laki-laki yang sangat kental,
dilecehkan sejak kecil dan bahkan berlanjut ketika Firdaus beranjak dewasa, sulitnya
menggapai keinginannya, bahkan bertahan hidup pun sangat sulit, juga banyak hal
buruk lainnya. Saadawi sukses memberikan paket komplit untuk Firdaus hingga
dunia terasa sangat tidak adil untuk ditinggali wanita. Dunia digambarkan dengan
dominasi kuat laki-laki atas perempuan, mendapatkan makanan, menentukan jalan
hidup, bahkan pendamping hidup sekalipun (Malang bgt Firdaus).
Seluruh laki-laki yang ditemui oleh
Firdaus dalam hidupnya selalu memperlakukannya dengan bejat. Dunia yang Firdaus
kenal bukanlah dunia indah yang diimikan hampir semua orang untuk tetap abadi
di dalamnya, bukan. Melainkan dunia yang berwarna hitam pekat dan menyesakkan
karena banyak hewan yang selalu menginginkan dan menikmati tubuh mungil Firdaus yang bahkan
selalu ditutup pakaiannya yang panjang. Kepolosan, ketidaktahuan serta keputusasaannya
untuk hidup telah membawanya pada dunia pelacuran, ya, Firdaus menjadi pelacur.
Novel ini menampar pembaca dengan kenyataan bahwa pelacur yang selama ini selalu disorot sebagai suatu hal yang buruk sebenarnya lebih baik dari tradisi tradisi patriarki yang dianggap hal umrah oleh masyarakat. Mengapa demikian? Karena hal yang dilumrahkan oleh masyarakat telah membawa Firdaus kecil yang polos terpaksa untuk menjadi sosok buruk bagi masyarakat hanya untuk bertahan hidup. Kisah Firdaus dalam Perempuan di Titik Nol ini telah mampu memperlihatkan secara baik bahwa perempuan menjadi tidak aman dalam tradisi patriarki yang banyak dibalut oleh doktrin agama.
Meskipun
terkadang terdapat beberapa perumpamaan yang dilakukan oleh Saadawi untuk
menggambarkan kondisi Firdaus ini terlihat terlalu hiperbola, namun menurut penulis
buku ini tetap worth to read. Mengingat juga tradisi patriarki ini masih
kerap terjadi di beberapa daerah di Indonesia, maka novel Perempuan di Titik
Nol ini mungkin bisa menjadi bacaan yang baik untuk kita ambil pelajarannya.
Juga buku ini sudah tersedia di aplikasi iPusnas.
Seketika awan hitam datang Dunianya seolah berhenti, sendirian Tangannya gemetar, matanya terlihat basah Tak berdaya dikejar keabadian. Mung...