Mengenai Saya

Foto saya
Hii, Welcome to my e-mind. Will always share book reviews, opinions on current issues, or even some poetry! 🌻

Senin, 26 April 2021

Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life, Sebagus itukah Buku ini?

            

            Buku Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life ini merupakan bacaan yang cukup populer, bahkan pada sampul depannya diklaim sebagai The International Bestseller loh. Buku yang ditulis oleh Hector Garcia dan Frances Miralles sudah diterjemahkan dalam banyak bahasa, salah satunya bahasa Inggris dan memiliki tebal sebanyak 208 halaman. Nuansa Jepang dalam buku ini tersajikan cukup apik dan sederhana, yaitu dengan keberadaan gambar bunga Sakura pada sampul depan buku ini.

            Substansi bacaan ini sebenarnya sudah tergambar dengan jelas melalui pemilihan diksi pada judul yang digunakan, yaitu pola hidup masyarakat Jepang -khususnya kota Okinawa- yang memiliki harapan hidup lebih lama dan bahagia. Dari beberapa kebiasaan yang dipaparkan dalam buku ini, penulis buku ini berusaha untuk lebih menekankan konsep Ikigai sebagai faktor yang cukup dominan untuk memiliki hidup yang lebih panjang dan bahagia.

            Dari 9 bab yang ada, menurutku ada satu dari sekian hal penting yang coba disampaikan oleh penulis terkait rahasia memiliki umur panjang, yaitu build great and strong relations among citizen. Hal ini dapat dilihat ketika penulis banyak menggambarkan ekspresi atau perasaannya dengan cukup detail terhadap kegiatan sosial yang ada di Okinawa. (Sampe gue sebagai pembaca bisa ikut merasakan kuatnya hubungan kekeluargaan di wilayah Okinawa, hihii)

            Selain itu juga poin menarik lainnya dari buku ini ialah pengingat untuk selalu menemukan flow dalam apapun yang kita lakukan. Meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit mengenai pengertian flow ini, tapi penulis mencoba menjelaskannya melalui beberapa contoh yang dipaparkan. Flow dalam buku ini gue pahami sebagai kesatuan yang harmoni antara pikiran jiwa dan raga manusia. Maksudnya ialah ketika kita melakukan suatu hal, maka kita secara penuh (kesatuan pikiran, jiwa dan raga) dan sadar berada pada momen dan hal yang sedang kita kerjakan. Gak perlu mengkhawatirkan masa yang akan datang, pun tidak menyesali masa yang sudah berlalu, cukup disini saja untuk menikmati saat ini. Karena dengan begitu dapat memungkinkan kita untuk menemukan Ikigai kita.

            Kritik yang cukup krusial untuk buku ini menurut gue ialah kurang matangnya definisi konsep ikigai oleh si penulis. Di satu sisi tidak dijelaskan apa itu ikigai menurut pandangan penulis buku, juga tidak ada batasan mengenai konsep ikigai ini. Sehingga menurut gue penulis menjadi tidak konsisten terhadap arti dari ikigai yang mereka gunakan. Terkadang ikigai dimaknai sebagai tujuan hidup atau hal yang membuat hidup kita bermakna, namun di sisi lain penulis juga mengartikan ikigai sebagai hal sederhana yang membuat kita bahagia dan puas akan hidup ini, dan pada bab awal buku ini disajikan pengertian ikigai melalui diagram di bawah ini

Menurutku ini cukup krusial, mengingat bahwa penulis menekankan ikigai sebagai faktor yang berperan besar untuk menjadi panjang umur, yang mana berarti merupakan inti buku ini.

Selain itu juga menurut gue pribadi, ada beberapa part dari buku ini yang mungkin lebih baik jika tidak dimasukkan, yaitu gambar bagaiman gerakan beberapa olahraga.

         Meskipun begitu, buku ini cukup ringan untuk dibaca, dapat menyadarkan beberapa hal sederhana yang kerap luput oleh kebanyakan orang. Sehingga dengan membaca buku ini bisa jadi jeda untuk kita merefleksikan nilai dan makna hidup ini.

If u guys find this writing, means that u have had an interest for this book. I tell u, go ahead, it’s a great book to read, I promise!
About the question on the tittle, I hope u can get your own answer.

Selasa, 06 April 2021

Buku Berjudul “Jalan Tak Ada Ujung” Membongkar Sisi Kehidupan Para Pejuang Revolusi

 


Apakah yang harus kita punyai, agar kita bebas dari ketakutan?

Kira-kira begitulah buku ini dibuka dengan sepenggal kalimat tanya di atas. Pertanyaan yang singkat, namun mungkin banyak dari kita belum menemukan jawabannya sampai saat ini. Apalagi pada era digital kini, data, informasi, kesempatan terbuka sangat luas hingga kadang dunia cenderung dijadikan ajang kompetisi bagi insannya. Karena itu banyak orang takut, khawatir pada banyak hal, kemudian mendadak ndak bisa tidur hingga subuh (Siapa hayo?).

Namun, ketakutan yang dimaksud oleh Mochtar Lubis dalam novelnya yang berjudul Jalan Tak Ada Ujung ini bukanlah demikian. Ketakutan yang dimaksud ialah ketakutan yang dirasakan oleh para pejuang pada masa revolusi, atau sekitar tahun 1946-an. Jakarta yang dijadikan latar tempat dalam cerita ini digambarkan sebagai kota yang sangat mencekam, dimana kekerasan bahkan pembunuhan terhadap masyarakat bisa dilakukan dengan bangga oleh tentara sekutu. Maka dari itu ketakutan menyelimuti banyak masyarakat Jakarta pada masa itu. Terutama, ketakutan luar biasa diberikan kepada salah satu tokoh utama dalam novel ini, seorang guru di salah satu SD di Tanah Abang -yang juga ambil peran dalam perjuangan Indonesia kala itu-, Guru Isa sapaannya. Namun ketakutan Guru Isa sedikit termanipulasi akibat kehadiran Hazil sebagai sosok pemuda yang semangatnya membara untuk mejadi pionir perjuangan pembela rakyat.

Semangat Hazil yang kuat dan teguh untuk meraih kebebasan kemerdekaan merupakan gambaran sosok pahlawan yang tertanam pada banyak masyarakat. Namun, dalam novelnya kali ini, Mochtar Lubis sepertinya berusaha untuk mengkritik paradoks tentang sosok karakter pejuang yang selama ini kita pahami. Bahwa dengan segala himpitan situasi seperti buruknya keadaan ekonomi, hilangnya rasa aman, sulitnya pergerakan perjuangan akhirnya mampu membuat pahlwan bertindak kriminal. Seperti adegan yang ditampilkan oleh Lubis ketika Guru Isa yang dihimpit oleh kebutuhan hidup akhirnya berani untuk mencuri buku dari sekolah tempatnya mengajar untuk dijual di Pasar terdekat dan memberikan uang tadi kepada Fatimah, istrinya.

Selain itu banyak diantara masyarakat dalam novel ini diperlihatkan yang dalam diamnya namun menangisi runtuhnya kolonialisme Belanda dan Jepang di Indonesia. Hati kecilnya (segelintir orang pribumi) berharap kolonialisme dapat diteruskan, sehingga kejayaan hidupnya dapat berlanjut. Miris memang pemikiran ini terngiang di hati masyarakat mengingat sebagian saudara se-tanah air diperlakukan bengis bak hewan.

Tidak berhenti disitu, sosok karakter pahlawan -Hazil- yang banyak dicintai pembaca pada awal cerita ini pun mengkhianati pengagumnya. Hazil memiliki api asmara pada Fatimah, istri Guru Isa. Yang lebih menyedihkan ialah kobaran semangat perjuangan yang dimiliki Hazil selama ini akhirnya redup pada akhir cerita, bahkan dirinya menyerah pada dirinya sendiri dan mengkhianati kawannya. Hebat betul Mochtar Lubis ini mengguncang pembacanya, haha.

Namun meskipun demikian, Mochtar Lubis melalui tokoh Guru Isa memberikan pesan yang cukup mendalam. Bahwa ketakutan pada sesuatu itu akan selalu ada pada tiap dari kita, maka dari itu untuk terus hidup, kita memang dituntut untuk bisa berdampingan dengan rasa takut. Karena dengan begitu, kita dapat bertahan hidup dengan juga selalu berproses menjadi versi yang lebih baik lagi.

Meskipun menurut gue gaya penulisan Lubis dalam novel ini cukup kaku, tapi ini bisa dimengerti karena mengingat novel ini ditulis pada masa yang yang cukup lampau. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1952 oleh Balai Pustaka. Betapa beraninya Lubis mengarang cerita se-vulgar ini pada masa itu, maka dari itu novel setebal 167 halaman ini sangat gue rekomendasiin masuk ke dalam daftar bacaan lo!  


Hikayat Anak yang Malang

Seketika awan hitam datang Dunianya seolah berhenti, sendirian Tangannya gemetar, matanya terlihat basah Tak berdaya dikejar keabadian. Mung...