Novel
Perempuan di Titik Nol merupakan karya buatan Nawal El-Saadawi yang mana
bukan merupakan karya fenomenal pertamanya, sebab beberapa bukunya -yang hampir selalu bernada feminis- sudah dilarang terbit di negara asalnya sendiri, Mesir. Hal
tersebutlah yang akhirnya menyebabkan novel ini diterbitkan di Lebanon pada
tahun 1973. Kemudian buku ini banyak menarik minat masyarakat dunia untuk
membacanya, lalu buku ini banyak diterjemahkan dalam bahasa asing lainnya,
salah satunya bahasa Indonesia. Di Indonesia sendiri, buku ini diterjemahkan
oleh Amir Sutaarga dan diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Cetakan
pertama buku ini dilakukan pada tahun 1989, namun penulis (blog) membaca cetakan kesebelas
yang mana diterbitkan pada tahun 2014.
Novel dengan tebal 175 halaman ini benar-benar
menggambarkan bagaimana tradisi patriarki yang mengakar kuat di Mesir telah
memakan korban nyata yaitu seorang perempuan bernama Firdaus. Kisah pilu kehidupan
Firdaus dalam novel Perempuan di Titik Nol ini berasal dari kisah nyata
yang kemudian sedikit dibumbui oleh Saadawi agar menjadi sebuah novel yang dapat
dinikmati pembaca.
Firdaus diceritakan sebagai perempuan
yang memiliki jalan hidup yang sangat terjal dan menyakitkan. Kehidupan dengan
ekonomi yang buruk, tradisi mengagungkan laki-laki yang sangat kental,
dilecehkan sejak kecil dan bahkan berlanjut ketika Firdaus beranjak dewasa, sulitnya
menggapai keinginannya, bahkan bertahan hidup pun sangat sulit, juga banyak hal
buruk lainnya. Saadawi sukses memberikan paket komplit untuk Firdaus hingga
dunia terasa sangat tidak adil untuk ditinggali wanita. Dunia digambarkan dengan
dominasi kuat laki-laki atas perempuan, mendapatkan makanan, menentukan jalan
hidup, bahkan pendamping hidup sekalipun (Malang bgt Firdaus).
Seluruh laki-laki yang ditemui oleh
Firdaus dalam hidupnya selalu memperlakukannya dengan bejat. Dunia yang Firdaus
kenal bukanlah dunia indah yang diimikan hampir semua orang untuk tetap abadi
di dalamnya, bukan. Melainkan dunia yang berwarna hitam pekat dan menyesakkan
karena banyak hewan yang selalu menginginkan dan menikmati tubuh mungil Firdaus yang bahkan
selalu ditutup pakaiannya yang panjang. Kepolosan, ketidaktahuan serta keputusasaannya
untuk hidup telah membawanya pada dunia pelacuran, ya, Firdaus menjadi pelacur.
Novel ini menampar pembaca dengan kenyataan bahwa pelacur yang selama ini selalu disorot sebagai suatu hal yang buruk sebenarnya lebih baik dari tradisi tradisi patriarki yang dianggap hal umrah oleh masyarakat. Mengapa demikian? Karena hal yang dilumrahkan oleh masyarakat telah membawa Firdaus kecil yang polos terpaksa untuk menjadi sosok buruk bagi masyarakat hanya untuk bertahan hidup. Kisah Firdaus dalam Perempuan di Titik Nol ini telah mampu memperlihatkan secara baik bahwa perempuan menjadi tidak aman dalam tradisi patriarki yang banyak dibalut oleh doktrin agama.
Meskipun
terkadang terdapat beberapa perumpamaan yang dilakukan oleh Saadawi untuk
menggambarkan kondisi Firdaus ini terlihat terlalu hiperbola, namun menurut penulis
buku ini tetap worth to read. Mengingat juga tradisi patriarki ini masih
kerap terjadi di beberapa daerah di Indonesia, maka novel Perempuan di Titik
Nol ini mungkin bisa menjadi bacaan yang baik untuk kita ambil pelajarannya.
Juga buku ini sudah tersedia di aplikasi iPusnas.


