Mengenai Saya

Foto saya
Hii, Welcome to my e-mind. Will always share book reviews, opinions on current issues, or even some poetry! 🌻

Minggu, 31 Januari 2021

Review Novel Perempuan di Titik Nol – Sebuah Tamparan

    

    Novel Perempuan di Titik Nol merupakan karya buatan Nawal El-Saadawi yang mana bukan merupakan karya fenomenal pertamanya, sebab beberapa bukunya -yang hampir selalu bernada feminis- sudah dilarang terbit di negara asalnya sendiri, Mesir. Hal tersebutlah yang akhirnya menyebabkan novel ini diterbitkan di Lebanon pada tahun 1973. Kemudian buku ini banyak menarik minat masyarakat dunia untuk membacanya, lalu buku ini banyak diterjemahkan dalam bahasa asing lainnya, salah satunya bahasa Indonesia. Di Indonesia sendiri, buku ini diterjemahkan oleh Amir Sutaarga dan diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Cetakan pertama buku ini dilakukan pada tahun 1989, namun penulis (blog) membaca cetakan kesebelas yang mana diterbitkan pada tahun 2014.

            Novel dengan tebal 175 halaman ini benar-benar menggambarkan bagaimana tradisi patriarki yang mengakar kuat di Mesir telah memakan korban nyata yaitu seorang perempuan bernama Firdaus. Kisah pilu kehidupan Firdaus dalam novel Perempuan di Titik Nol ini berasal dari kisah nyata yang kemudian sedikit dibumbui oleh Saadawi agar menjadi sebuah novel yang dapat dinikmati pembaca.

            Firdaus diceritakan sebagai perempuan yang memiliki jalan hidup yang sangat terjal dan menyakitkan. Kehidupan dengan ekonomi yang buruk, tradisi mengagungkan laki-laki yang sangat kental, dilecehkan sejak kecil dan bahkan berlanjut ketika Firdaus beranjak dewasa, sulitnya menggapai keinginannya, bahkan bertahan hidup pun sangat sulit, juga banyak hal buruk lainnya. Saadawi sukses memberikan paket komplit untuk Firdaus hingga dunia terasa sangat tidak adil untuk ditinggali wanita. Dunia digambarkan dengan dominasi kuat laki-laki atas perempuan, mendapatkan makanan, menentukan jalan hidup, bahkan pendamping hidup sekalipun (Malang bgt Firdaus).

            Seluruh laki-laki yang ditemui oleh Firdaus dalam hidupnya selalu memperlakukannya dengan bejat. Dunia yang Firdaus kenal bukanlah dunia indah yang diimikan hampir semua orang untuk tetap abadi di dalamnya, bukan. Melainkan dunia yang berwarna hitam pekat dan menyesakkan karena banyak hewan yang selalu menginginkan dan menikmati tubuh mungil Firdaus yang bahkan selalu ditutup pakaiannya yang panjang. Kepolosan, ketidaktahuan serta keputusasaannya untuk hidup telah membawanya pada dunia pelacuran, ya, Firdaus menjadi pelacur.

            Novel ini menampar pembaca dengan kenyataan bahwa pelacur yang selama ini selalu disorot sebagai suatu hal yang buruk sebenarnya lebih baik dari tradisi tradisi patriarki yang dianggap hal umrah oleh masyarakat. Mengapa demikian? Karena hal yang dilumrahkan oleh masyarakat telah membawa Firdaus kecil yang polos terpaksa untuk menjadi sosok buruk bagi masyarakat hanya untuk bertahan hidup. Kisah Firdaus dalam Perempuan di Titik Nol ini telah mampu memperlihatkan secara baik bahwa perempuan menjadi tidak aman dalam tradisi patriarki yang banyak dibalut oleh doktrin agama.

    Meskipun terkadang terdapat beberapa perumpamaan yang dilakukan oleh Saadawi untuk menggambarkan kondisi Firdaus ini terlihat terlalu hiperbola, namun menurut penulis buku ini tetap worth to read. Mengingat juga tradisi patriarki ini masih kerap terjadi di beberapa daerah di Indonesia, maka novel Perempuan di Titik Nol ini mungkin bisa menjadi bacaan yang baik untuk kita ambil pelajarannya. Juga buku ini sudah tersedia di aplikasi iPusnas.

Rabu, 27 Januari 2021

Alasan Harus Baca Novel Laut Bercerita - Sebuah Review

 


“Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali”

 

Puisi tersebut merupakan salah satu ruh dalam sebuah novel karangan Leila S. Chudori yang berjudul Laut Bercerita yang dipublikasi oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun 2017. Novel ini tentu bukan menceritakan hiu, lumba-lumba atau bahkan warga bikini bottom. Jauh daripada itu, novel ini mengisahkan tentang tokoh utamanya yang bernama Biru Laut sedang bercerita tentang kisahnya dalam bermimpi, berjuang untuk melawan bangunan kokoh yang tegak berdiri, Orde Baru.

Novel setebal 379 halaman ini (isi novel: 373 halaman) terbagi menjadi dua bagian besar, dimana bagian pertama mengisahkan cerita dari sudut pandang Biru Laut yang banyak mengisahkan masa sebelum 1998, sedangkan bagian keduanya menggambarkan dari sudut pandang adik kesayangan Biru Laut, Asmara mengenai kepiluan setelah terjadinya tragedi 1998.

            Chudori memperkenalkan dengan apik tentang sifat dan karakter Biru Laut, seorang mahasiswa sastra UGM, mamanya yang handal memasak tengklek, ayah yang bekerja sebagai reporter di Harian Jakarta, Adiknya yang berkuliah kedokteran di UI Depok, serta teman-temannya yang memiliki kesamaan visi tergabung dalam organisasi Winatra. Winatra digambarkan bukan hanya sebagai organisasi semata, melainkan rumah kedua bagi anggotanya yang berasal dari mahasiswa di Yogyakarta seperti Kinan, Bram, Daniel, Sunu, Alex, dan tentu bagi Biru Laut. Organisasi ini kemudian bekerjasama dengan organisasi lain seperti Wirasena dan Tarakan, yang mana juga berusaha untuk membangkitkan demokrasi di Indonesia pada masa orde baru.

            Meskipun selama jalannya cerita, kita dibawa maju mundur oleh penulis, namun pembaca akan tetap mengerti bagaimana besarnya kasih yang hidup dalam ketiga organisasi tadi, hangatnya keluarga Biru Laut (apalagi ritual setiap hari Minggu di Ciputat), serta brengseknya para cukong Orde Baru menghardik Biru Laut dan kawan-kawannya yang tengah memperjuangkan tegaknya nilai demokrasi dan keadilan, dan tentu kesayangan para pembaca.

            Setelah mendengarkan kisah patriotik Biru Laut dan kawan-kawannya dalam pergerakan aksi dan juga dukungan terhadap masyarakat yang ditindas dengan tidak adil secara terang-terangan, kemudian pada bagian kedua yang mana merupakan cerita dari sudut pandang Asmara lebih bernuansa pilu dan penuh kesedihan. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa kakanya, Biru Laut serta kawannya di Winatra, Wirasena hilang entah kemana. Asmara menggambarkan dengan jelas dalam tiap kata di paragrafnya tentang bagaimana kesedihan itu bergerumul dalam kehidupannya. Kenyataan bahwa kakak kesayangannya tak kunjung pulang, juga Ibu dan Ayahnya yang selalu berusaha sembunyi dalam dunia yang dibangunnya, tentang angan bahwa mungkin Laut akan pulang kerumah suatu hari nanti.

            Situasi yang lebih mengerikan daripada kematian ini telah mengkungkung Asmara untuk tetap mempertahankan rasionalitasnya daripada emosinya. Hal ini tentu diperlukan untuk membantu orang sekelilingnya sadar tentang realita yang ada, sepahit apapun itu atau bahkan tentang kemungkinan bahwa Biru Laut tidak akan pulang. Leila S. Chudori dengan permainan diksinya dalam novel ini mampu membuat siapa saja ikut amarah atau bahkan berlinang air mata. Pantas saja novel Laut Bercerita ini telah membawa Chudori sebagai pemenang dalam South East Asia Write Award pada tahun 2020. Kemenangan tersebut tentu diraih atas keseriusannya dalam menulis novel ini, hal ini dapat dilihat pada pernyataan Chudori sendiri dalam bagian Ucapan Terima Kasih dalam novel ini, dimana disebutkan bahwa Chudori telah melakukan wawancara dengan para korban atau kerabat dari aktivis yang hilang ataupun yang selamat dari kekacauan yang terjadi pada tahun 1998, hingga akhirnya dituliskan dalam bentuk fiksi ini.

            Setelah merampungkan buku ini, penulis jadi merasa bahwa ada sesuatu yang hilang dari diri ini sebagai manusia, yaitu kepedulian. Tentang kasus hilangnya aktivis 1998, aksi kamisan yang menuntut pemerintah memenuhi tanggungjawabnya, atau mungkin banyak kasus pelanggaran HAM lainnya yang masih terjadi hingga saat ini. Karakter laut dan kawan-kawannya di Wirasena, Winatra dan Tarakan telah menyentil ego penulis, bahwa mungkin saja saat ini -menuntut ilmu, membaca buku, bersuara- tidak akan sebaik dan senyaman ini tanpa perjuangan teman-teman aktivis yang terluka, atau bahkan mati pada maa orde baru.

Bagi teman-teman yang belum membaca novel Laut Bercerita, penulis sangat merekomendasikannya untuk dimasukkan dalam list bacaannya. Karena novel ini dapat menjadi sebuah refleksi bagi kita untuk mengenang sosok dan jasa para pahlawan yang tidak selalu menunggangi kuda. Tidak perlu khawatir mengenai harga di masa pandemi ini, karena novel ini sudah tersedia di aplikasi iPusnas, silahkan download aplikasinya di gadget kalian dan silahkan pinjam dan baca melalui smartphone kamu. Salam.  


Hikayat Anak yang Malang

Seketika awan hitam datang Dunianya seolah berhenti, sendirian Tangannya gemetar, matanya terlihat basah Tak berdaya dikejar keabadian. Mung...