“Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali”
Puisi tersebut
merupakan salah satu ruh dalam sebuah novel karangan Leila S. Chudori yang
berjudul Laut Bercerita yang dipublikasi oleh Kepustakaan
Populer Gramedia pada tahun 2017. Novel ini tentu bukan menceritakan hiu,
lumba-lumba atau bahkan warga bikini bottom. Jauh daripada itu, novel ini
mengisahkan tentang tokoh utamanya yang bernama Biru Laut sedang bercerita
tentang kisahnya dalam bermimpi, berjuang untuk melawan bangunan kokoh yang
tegak berdiri, Orde Baru.
Novel setebal 379
halaman ini (isi novel: 373 halaman) terbagi menjadi dua bagian besar, dimana
bagian pertama mengisahkan cerita dari sudut pandang Biru Laut yang banyak
mengisahkan masa sebelum 1998, sedangkan bagian keduanya menggambarkan dari sudut
pandang adik kesayangan Biru Laut, Asmara mengenai kepiluan setelah terjadinya
tragedi 1998.
Chudori
memperkenalkan dengan apik tentang sifat dan karakter Biru Laut, seorang
mahasiswa sastra UGM, mamanya yang handal memasak tengklek, ayah yang bekerja
sebagai reporter di Harian Jakarta, Adiknya yang berkuliah kedokteran di UI
Depok, serta teman-temannya yang memiliki kesamaan visi tergabung dalam
organisasi Winatra. Winatra digambarkan bukan hanya sebagai organisasi semata,
melainkan rumah kedua bagi anggotanya yang berasal dari mahasiswa di Yogyakarta
seperti Kinan, Bram, Daniel, Sunu, Alex, dan tentu bagi Biru Laut. Organisasi
ini kemudian bekerjasama dengan organisasi lain seperti Wirasena dan Tarakan,
yang mana juga berusaha untuk membangkitkan demokrasi di Indonesia pada masa
orde baru.
Meskipun
selama jalannya cerita, kita dibawa maju mundur oleh penulis, namun pembaca
akan tetap mengerti bagaimana besarnya kasih yang hidup dalam ketiga organisasi
tadi, hangatnya keluarga Biru Laut (apalagi ritual setiap hari Minggu di Ciputat),
serta brengseknya para cukong Orde Baru menghardik Biru Laut dan kawan-kawannya
yang tengah memperjuangkan tegaknya nilai demokrasi dan keadilan, dan tentu
kesayangan para pembaca.
Setelah
mendengarkan kisah patriotik Biru Laut dan kawan-kawannya dalam pergerakan aksi
dan juga dukungan terhadap masyarakat yang ditindas dengan tidak adil secara
terang-terangan, kemudian pada bagian kedua yang mana merupakan cerita dari sudut
pandang Asmara lebih bernuansa pilu dan penuh kesedihan. Hal ini disebabkan oleh
fakta bahwa kakanya, Biru Laut serta kawannya di Winatra, Wirasena hilang entah
kemana. Asmara menggambarkan dengan jelas dalam tiap kata di paragrafnya tentang
bagaimana kesedihan itu bergerumul dalam kehidupannya. Kenyataan bahwa kakak
kesayangannya tak kunjung pulang, juga Ibu dan Ayahnya yang selalu berusaha
sembunyi dalam dunia yang dibangunnya, tentang angan bahwa mungkin Laut akan
pulang kerumah suatu hari nanti.
Situasi yang lebih mengerikan daripada kematian ini telah mengkungkung Asmara untuk tetap mempertahankan rasionalitasnya daripada emosinya. Hal ini tentu diperlukan untuk membantu orang sekelilingnya sadar tentang realita yang ada, sepahit apapun itu atau bahkan tentang kemungkinan bahwa Biru Laut tidak akan pulang. Leila S. Chudori dengan permainan diksinya dalam novel ini mampu membuat siapa saja ikut amarah atau bahkan berlinang air mata. Pantas saja novel Laut Bercerita ini telah membawa Chudori sebagai pemenang dalam South East Asia Write Award pada tahun 2020. Kemenangan tersebut tentu diraih atas keseriusannya dalam menulis novel ini, hal ini dapat dilihat pada pernyataan Chudori sendiri dalam bagian Ucapan Terima Kasih dalam novel ini, dimana disebutkan bahwa Chudori telah melakukan wawancara dengan para korban atau kerabat dari aktivis yang hilang ataupun yang selamat dari kekacauan yang terjadi pada tahun 1998, hingga akhirnya dituliskan dalam bentuk fiksi ini.
Setelah
merampungkan buku ini, penulis jadi merasa bahwa ada sesuatu yang hilang dari
diri ini sebagai manusia, yaitu kepedulian. Tentang kasus hilangnya aktivis
1998, aksi kamisan yang menuntut pemerintah memenuhi tanggungjawabnya, atau
mungkin banyak kasus pelanggaran HAM lainnya yang masih terjadi hingga saat
ini. Karakter laut dan kawan-kawannya di Wirasena, Winatra dan Tarakan telah
menyentil ego penulis, bahwa mungkin saja saat ini -menuntut ilmu, membaca buku, bersuara- tidak akan sebaik dan senyaman
ini tanpa perjuangan teman-teman aktivis yang terluka, atau bahkan mati pada
maa orde baru.
Bagi teman-teman yang
belum membaca novel Laut Bercerita, penulis sangat merekomendasikannya
untuk dimasukkan dalam list bacaannya. Karena novel ini dapat menjadi sebuah
refleksi bagi kita untuk mengenang sosok dan jasa para pahlawan yang tidak
selalu menunggangi kuda. Tidak perlu khawatir mengenai harga di masa pandemi
ini, karena novel ini sudah tersedia di aplikasi iPusnas, silahkan
download aplikasinya di gadget kalian dan silahkan pinjam dan baca melalui
smartphone kamu. Salam.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar