Sinopsis ringkas
Berlatar pada tahun 1920 an di kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, kisah ini bermula ketika saudagar kaya raya bernama Engku H. Ja’far membeli rumah besar yang ada di wilayah tempat Hamid tinggal bersama mamanya. Engku H. Ja’far, istrinya dan juga Zainab -anak perempuan satu-satunya yang sepantaran dengan Hamid- memiliki budi yang sangat baik, kerap kali membantu siapapun yang kesusahan. Hamid merupakan salah satu warga desa yang dibantu oleh H. Ja’far, yaitu disekolahkan. Dengan begitu, besar rasa hormat yang diberikan oleh Hamid kepada H. Ja’far dan istrinya, yang kerap dipanggil Mak Asiah oleh Hamid.
Hamid pergi ke sekolah yang sama dengan Zainab, dan persahabatan di antara keduanya tentu tak dapat terelakan lagi. Banyaknya waktu bermain yang dihabiskan oleh mereka berdua ternyata menjadi suatu kekuatan, yang mampu menimbulkan benih-benih ketertarikan oleh keduanya. Semakin beranjak dewasa, Hamid mulai menyadari bahwa ada jurang besar antara dirinya dengan Zainab terkasih. Jurang yang rasanya terlalu sulit ditembus oleh Hamid, iya, status sosial dan ketimpangan ekonomi keduanyalah yang menjadi penghalang dari ketulusan cinta keduanya.
“Jangan
kau turutkan hatimu, sampai kapanpun emas takkan setara dengan loyang, sutra
takkan sebangsa dengan benang” -Mamak Hamid
Supaya tidak spoiler secara terang-terangan, kiranya
akhir kisah cinta antara Hamid dan Zainab ini sangatlah realistis, dan tragis,
dan suci, dan abadi.
Novel
Novel berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah merupakan karangan
seorang ulama besar Indonesia dan juga sastrawan Haji Abdul Malik Karim
Amrullah, atau lebih dikenal dengan Buya Hamka. Novel ini pertama kali
dipublikasikan pada tahun 1938 oleh Balai Pustaka, penerbit nasional Hindia Belanda. Buku
fiksi ini memiliki 13 bab dengan total 91 halaman di dalamnya. Menurut hemat
penulis buku ini kurang lebih hanya membutuhkan waktu 1-2 jam saja untuk
menyelesaikan keseluruhan cerita.
Kisah yang termuat dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah ini sarat akan budaya minang, mulai dari penggunaan sebutan engku untuk menyebut H. Ja’far, dimana menurut KBBI disebutkan bahwa engku dapat bermakna sebagai kata sapaan kepada orang yang patut dihormati. Juga menggunakan sebutan abang yang berarti kakak laki-laki, dan juga Mak yang sebenarnya merupakan singkatan dari mamak.
Selain cerita yang sungguh amat dikagumi, Buya Hamka juga banyak menggunakan kata Bahasa Indonesia yang menurutku saat ini sudah mulai jarang digunakan dalam keseharian, seperti saya, engkau, hendak, jongos, beroleh, anakanda, permenungan, alang, menyabarkan, mempertalikan dan masih banyak lagi diksi indah lainnya, wah Buya maafkan saya terlalu telat mengenal karyamu. Masih dalam situasi terkagum, mengingat usia novel ini yang sudah lebih dari 80 tahun, namun karyanya masih saja digemari oleh banyak generasi hingga saat ini, maka tak heran kalau nama Buya Hamka masih banyak diperbincangkan oleh banyak orang meskipun raganya telah lama pergi menuju sang Khaliq.
Film
Seperti kebanyakan novel yang memiliki banyak sekali
penggemar, Di Bawah Lindungan Ka’bah juga akhirnya diadaptasi menjadi sebuat film
layar lebar oleh rumah produksi MD Pictures, dan disutradarai oleh Hanny R.
Saputra. Film romansa ini dirilis pada tahun 2011. Film dengan durasi 121 menit ini ditargetkan
untuk meraih 7 juta penonton, namun hingga akhir penayangannya, film ini hanya
mendapatkan 520 ribu penonton. Meskipun demikian film ini sempat diajukan sebagai
perwakilan Indonesia pada Academy Awards ke-84 untuk kategori Film Berbahasa
Asing Terbaik, namun Di Bawah Lindungan Ka’bah tidak berhasil untuk masuk
nominasi akhir.
Menurut hemat penulis, sinematografi dalam film ini
sungguh memukau, serta didukung oleh aktor Indonesia yang tak perlu diragukan
lagi bakat aktingnya. Hamid diperankan oleh Herjunot Ali, dan Zainab diperankan
oleh Laudya Cynthia Bella. Bagaimana komposisi, angle, efek yang digunakan,
pencahayaan serta background music yang menurutku, ‘perfectly fit’. Meskipun
memang cerita dalam film tidak sama persis dengan apa yang ada di dalam novel,
namun menurut penulis, film ini tetap mampu menyajikan alur cerita yang menarik
hingga akhir.
In conclusion, penulis tidak dapat memilih antara film atau novel. Keduanya memiliki kelebihannya yang mana membuat karya tersebut unik dan spesial dalam kategorinya masing-masing. Novel, sudah menjadi rahasia umum bahwa melalui tulisan tentu pembaca memiliki kesempatan untuk melihat dan merasakan lebih dalam terkait emosi dan juga kompleksitas yang terjadi dalam sebuah cerita. Selain itu ada banyak sekali kata-kata indah nan penuh makna yang dilontarkan oleh Buya Hamka melalui novelnya ini.
Disisi lain film yang disuguhkan oleh MD Pictures lumayan berbeda dengan alur novel, penulis menduga hal tersebut dilakukan demi kebutuhan komersil, sehingga ditambahi scene yang sedikit modern supaya dapat menarik lebih banyak penonton. Namun secara garis besar jalan cerita keduanya masih sejalan serta akting para aktor yang terlibat di dalamnya mampu membawa penonton larut dalam kisah Hamid dan Zainab.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar