Hii!!
Ingin merayakan mukjizat Tuhan karena akhirnya aku dapat beranjak dari kemageran akut yang sudah mandarah daging dengan menulis lagi di blog ini hehe.
Sejarah munculnya minatku untuk baca
buku yang akan aku review ini sebenernya diawali oleh celotehan warga twitter di salah satu fanbase gitu yang memperdebatkan
pandangannya terhadap buku ini. Ada yang bilang jangan dibaca karna ini itu, ada yang bilang sangat
recommended, dan akhirnya karena penasaran bangett, jadi ya beginilah aku (apaansi anjir hahaha). So, langsung
aja uhuy.
![]() |
Buku kedua
yang akan aku review kali ini merupakan sebuah novel fiksi yang sebenarnya
terinspirasi dari kisah nyata seseorang. Buku karangan Muhidin M. Dahlan ini diterbitkan
pertama kali pada tahun 2003 oleh penerbit ScriPta Manent. Buku ini meupakan
salah satu buku yang cukup fenomenal,
baik jika dilihat dari judulnya ataupun
isinya. Sebenernya nyeritain tentang apansii? Oke kita bahas sekarang, detik
ini, saat ini juga!
Novel
berjudul Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! ini mengisahkan tentang
perjalanan seorang gadis muda yang bernama Nidah Kirani dalam proses perjalanannya
dalam dunia spiritualnya. Lika liku dialami oleh Nidah ketika berusaha untuk lebih memahami tentang agama itu sendiri, hingga akhirnya dirinya bergabung dengan salah
satu organisasi islam konservatif, yaitu Jemaah. Jemaah merupakan sebuah
organisasi illegal yang mana mempercayai sebuah konsep, yaitu untuk menjadi
islam secara kaffah (benar), maka harus menegakan adanya Daulah
Islamiyah (Berdirinya sebuah negara dengan berlandaskan pada agama Islam).
Sejak
ketergabungannya dalam organisasi konservatif tersebut, Nidah menjadi merasa
lebih yakin bahwa dirinya menempuh jalan paling benar dalam beragama. Perjuangannya
dalam upaya untuk menyebarkan dakwah ajaran organisasinya tersebut sungguh luar
biasa, bahkan ia rela menggunakan uang keperluan kuliahnya untuk diberikan
kepada Jemaah. Kuatnya tekad Nidah untuk beragama dengan baik pun
diperlihatkannya dengan tingginya rasa keingintahuannya untuk mempelajari hal
baru terkait akidah dan keyakinannya tersebut.
Namun,
keantusias-annya dalam ketergabungannya dengan Jemaah justru mendorong dirinya
kepada jurang kekecewaan yang amat dalam. Nidah menemukan fakta baru dimana
Jemaah dirasa tidak serius dalam melakukan misinya untuk mendirikan negara islam
di Indonesia. Semakin dilihat lebih jauh, Nidah menganggap bahwa Jemaah tidak
transparan dan cenderung tertutup atas rencana-rencana kedepannya. (Maklum kan si Nidah ceritanya lagi
seneng2nya belajar ilmu agama, jadi dia semangatnya tinggi banget untuk wujudin
apa yang dia rasa benar). Sehingga karena hal itu, ia merasa telah dikhianati,
lantaran niat tulus dan pengorbanannya untuk bergabung dengan Jemaah mewujudkan
cita-citanya itu tidak terbalaskan namun malah terasa seperti dicampakkan.
Kekecewaan
itu membawanya pergi dari organisasi Jemaah, namun kepergiannya itu bersama
dengan kekosongan yang ikut dengan dirinya. Ia merasa sangat hampa dan
kehilangan arah. Ia mengalami stress berat dan bahkan depresi, Ia bahkan takut kalau-kalau
menjadi gila. Selama masa kehampaan itu, ia pun juga mulai kehilangan kepercayaannta
terhadap kuasa Tuhan. Ia banyak mengutuk tuhan lantaran dianggap tidak membalas
kebaikannya yang telah rela untuk mengabdikan dirinya menjadi tentaranya (Astaghfirullah
Nidahh, Bapak luu liatt Nidahhh!!).
Besarnya
kekecewaan Nidah telah mengantarkannya kepada sisi dunia yang lain, dunia malam yang gelap. Nidah mulai menjadi seorang pemakai obat-obatan dan juga kerap kali tidur dengan lelaki
yang berbeda tiap harinya. Kehidupannya perlahan menjadi hancur dan lebih
hancur lagi, namun ia merasa bahwa hal ini perlu untuk dilakukan guna menantang Tuhan karena Nidah
menanggap tuhan sangat tidak acuh terhadapnya. Tidak ada
penyesalan sedikitpun yang dirasakan oleh seorang Nidah Kirani atas perilakunya itu. Ia rela jika
kehidupannya menjadi hancur, sebab ia merasa bahwa ini merupakan sebuah bentuk
pemberontakannya atas perilaku Tuhan padanya dan ia merasa bahwa dirinya
baik-baik saja dan akan tetap begitu (Shombongg kaliii Nidah ni berani2 nantang
tuhan, yuk istighfar yuk wankawannn!!).
Nah, garis
besar ceritanya kan udah aku beberin nih, aku mau review menurut aku dulu yaaa,
nanti kalo kalian udah abis baca buku ini, sharing kesini dong let’s disscuss!
Tingkah laku yang ditampilin oleh seorang Nidah ini merupakan orang yang terlalu mudah untuk mengamini sesuatu sehingga menyebabkan dirinya mudah kecewa. Terlihat ketika dia terlalu mudah untuk bergabung dengan organisasi tanpa dilihat secara lebih luas dan jeli. Maksudku dia itu terlihat sangat saklek, mau cari ilmu agama eh dijejelin cara pandang agama menurut Jemaah langsung masuk gt. Kan seharusnya mencari second opinion dulu gitu untuk membandingkan atau untuk melihat banyak sisi dari organisasi tersebut. Tapi dibukunya begitu, ya, yaudah.
Selain itu,
aku juga melihat sepertinya terdapat sebuah satire atau sindiran terhadap banyaknya
kelompok ekstrimis agama yang merebak ke kampus-kampus. Sehingga di dalam buku
itu digambarkan bagaimana proses ketergabungan Nidah dalam organisasi Jemaah,
yaitu dimana dipreteli kepercayaan lama Nidah dan lalu di bangun pondasi-pondasi
baru yang sesuai dengan Jemaah. Nah ini juga bisa kita jadiin pelajaran gais, bahwa sebelum bergabung ama suatu organisasi itu ada baiknya dilihat lebih dalam dulu supaya tidak terjerumus ke hal-hal yang enggak diinginkan.
Poin ketiga
juga, aku melihat seperti ada kritik sosial yang hendak disampaikan, yaitu tentang
kepercayaan yang selama ini berkembang di Masyarakat. Maksudnya? Iya, jadi kaya
istilah mengenai apa yang baik dan buruk itu bukanlah sesuatu yang berarti makna sesungguhnya. Melainkan baik dan buruk itu sesuatu yang diciptakan oleh masyarakat
itu sendiri. Ya walaupun demikian adanya, namun aku tetep seneng dengan adanya
norma sosial yang berlaku ini, karena bisa menjaga dan menciptakan rasa aman dari kita.
Melalui karakter Nidah juga, diperlihatkan tentang adanya keinginan untuk menjadi bebas dan penentu atas dirinya. Penentu disini menurut penulis menjadi terlihat cukup ekstrim ketika Nidah beranggapan bahwa manusia merupakan setengah Tuhan. Mungkin jika dikatakan bahwa manusia juga sedikit banyak ikut bertanggung jawab dalam penentuan nasibnya, aku setuju, tapi kalo dibilang kita ini setengah tuhan, aku mau nangessss.
Udah segitu
dulu, nanti bisa buat skripsi lama-lama aku ngetik (alay najong) hehe. Tulisan
ini merupakan opini ku semata terkait buku Tuhan Izinkan AKu Menjadi Pelacur!.
Meskipun terdapat kritikan yang aku sampaikan, gak berarti aku benci
bukunya, karena ada sisi positif juga dari substansi buku ini. Aku hanya sedang berusaha untuk menjaga atau bahkan meningkatkan daya
kritisku di tengah pandemic ini. Kalo kalian udah baca bukunya, yuk dikusi atau
kritik opini aku disini. Hope to see u soon!!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar