Mengenai Saya

Foto saya
Hii, Welcome to my e-mind. Will always share book reviews, opinions on current issues, or even some poetry! 🌻

Senin, 04 Mei 2020

Review Buku Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur


   Hii!!

Ingin merayakan mukjizat Tuhan karena akhirnya aku dapat beranjak dari kemageran akut yang sudah mandarah daging dengan menulis lagi di blog ini hehe. 
Sejarah munculnya minatku untuk baca buku yang akan aku review ini sebenernya diawali oleh celotehan warga twitter di salah satu fanbase gitu yang memperdebatkan pandangannya terhadap buku ini. Ada yang bilang jangan dibaca karna ini itu, ada yang bilang sangat recommended, dan akhirnya karena penasaran bangett, jadi ya beginilah aku (apaansi anjir hahaha). So, langsung aja uhuy.


Buku kedua yang akan aku review kali ini merupakan sebuah novel fiksi yang sebenarnya terinspirasi dari kisah nyata seseorang. Buku karangan Muhidin M. Dahlan ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2003 oleh penerbit ScriPta Manent. Buku ini meupakan salah satu buku yang cukup fenomenal, 
baik jika dilihat dari judulnya ataupun isinya. Sebenernya nyeritain tentang apansii? Oke kita bahas sekarang, detik ini, saat ini juga!

Novel berjudul Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! ini mengisahkan tentang perjalanan seorang gadis muda yang bernama Nidah Kirani dalam proses perjalanannya dalam dunia spiritualnya. Lika liku dialami oleh Nidah ketika berusaha untuk lebih memahami tentang agama itu sendiri, hingga akhirnya dirinya bergabung dengan salah satu organisasi islam konservatif, yaitu Jemaah. Jemaah merupakan sebuah organisasi illegal yang mana mempercayai sebuah konsep, yaitu untuk menjadi islam secara kaffah (benar), maka harus menegakan adanya Daulah Islamiyah (Berdirinya sebuah negara dengan berlandaskan pada agama Islam).


Sejak ketergabungannya dalam organisasi konservatif tersebut, Nidah menjadi merasa lebih yakin bahwa dirinya menempuh jalan paling benar dalam beragama. Perjuangannya dalam upaya untuk menyebarkan dakwah ajaran organisasinya tersebut sungguh luar biasa, bahkan ia rela menggunakan uang keperluan kuliahnya untuk diberikan kepada Jemaah. Kuatnya tekad Nidah untuk beragama dengan baik pun diperlihatkannya dengan tingginya rasa keingintahuannya untuk mempelajari hal baru terkait akidah dan keyakinannya tersebut.


Namun, keantusias-annya dalam ketergabungannya dengan Jemaah justru mendorong dirinya kepada jurang kekecewaan yang amat dalam. Nidah menemukan fakta baru dimana Jemaah dirasa tidak serius dalam melakukan misinya untuk mendirikan negara islam di Indonesia. Semakin dilihat lebih jauh, Nidah menganggap bahwa Jemaah tidak transparan dan cenderung tertutup atas rencana-rencana kedepannya. (Maklum kan si Nidah ceritanya lagi seneng2nya belajar ilmu agama, jadi dia semangatnya tinggi banget untuk wujudin apa yang dia rasa benar). Sehingga karena hal itu, ia merasa telah dikhianati, lantaran niat tulus dan pengorbanannya untuk bergabung dengan Jemaah mewujudkan cita-citanya itu tidak terbalaskan namun malah terasa seperti dicampakkan.


Kekecewaan itu membawanya pergi dari organisasi Jemaah, namun kepergiannya itu bersama dengan kekosongan yang ikut dengan dirinya. Ia merasa sangat hampa dan kehilangan arah. Ia mengalami stress berat dan bahkan depresi, Ia bahkan takut kalau-kalau menjadi gila. Selama masa kehampaan itu, ia pun juga mulai kehilangan kepercayaannta terhadap kuasa Tuhan. Ia banyak mengutuk tuhan lantaran dianggap tidak membalas kebaikannya yang telah rela untuk mengabdikan dirinya menjadi tentaranya (Astaghfirullah Nidahh, Bapak luu liatt Nidahhh!!).


Besarnya kekecewaan Nidah telah mengantarkannya kepada sisi dunia yang lain, dunia malam yang gelap. Nidah mulai menjadi seorang pemakai obat-obatan dan juga kerap kali tidur dengan lelaki yang berbeda tiap harinya. Kehidupannya perlahan menjadi hancur dan lebih hancur lagi, namun ia merasa bahwa hal ini perlu untuk dilakukan guna menantang Tuhan karena Nidah menanggap tuhan sangat tidak acuh terhadapnya. Tidak ada penyesalan sedikitpun yang dirasakan oleh seorang Nidah Kirani atas perilakunya itu. Ia rela jika kehidupannya menjadi hancur, sebab ia merasa bahwa ini merupakan sebuah bentuk pemberontakannya atas perilaku Tuhan padanya dan ia merasa bahwa dirinya baik-baik saja dan akan tetap begitu (Shombongg kaliii Nidah ni berani2 nantang tuhan, yuk istighfar yuk wankawannn!!).


Nah, garis besar ceritanya kan udah aku beberin nih, aku mau review menurut aku dulu yaaa, nanti kalo kalian udah abis baca buku ini, sharing kesini dong let’s disscuss!

Tingkah laku yang ditampilin oleh seorang Nidah ini merupakan orang yang terlalu mudah untuk mengamini sesuatu sehingga menyebabkan dirinya mudah kecewa. Terlihat ketika dia terlalu mudah untuk bergabung dengan organisasi tanpa dilihat secara lebih luas dan jeli. Maksudku dia itu terlihat sangat saklek, mau cari ilmu agama eh dijejelin cara pandang agama menurut Jemaah langsung masuk gt. Kan seharusnya mencari second opinion dulu gitu untuk membandingkan atau untuk melihat banyak sisi dari organisasi tersebut. Tapi dibukunya begitu, ya, yaudah.


Selain itu, aku juga melihat sepertinya terdapat sebuah satire atau sindiran terhadap banyaknya kelompok ekstrimis agama yang merebak ke kampus-kampus. Sehingga di dalam buku itu digambarkan bagaimana proses ketergabungan Nidah dalam organisasi Jemaah, yaitu dimana dipreteli kepercayaan lama Nidah dan lalu di bangun pondasi-pondasi baru yang sesuai dengan Jemaah. Nah ini juga bisa kita jadiin pelajaran gais, bahwa sebelum bergabung ama suatu organisasi itu ada baiknya dilihat lebih dalam dulu supaya tidak terjerumus ke hal-hal yang enggak diinginkan.


Poin ketiga juga, aku melihat seperti ada kritik sosial yang hendak disampaikan, yaitu tentang kepercayaan yang selama ini berkembang di Masyarakat. Maksudnya? Iya, jadi kaya istilah mengenai apa yang baik dan buruk itu bukanlah sesuatu yang berarti makna sesungguhnya. Melainkan baik dan buruk itu sesuatu yang diciptakan oleh masyarakat itu sendiri. Ya walaupun demikian adanya, namun aku tetep seneng dengan adanya norma sosial yang berlaku ini, karena bisa menjaga dan menciptakan rasa aman dari kita.


Melalui karakter Nidah juga, diperlihatkan tentang adanya keinginan untuk menjadi bebas dan penentu atas dirinya. Penentu disini menurut penulis menjadi terlihat cukup ekstrim ketika Nidah beranggapan bahwa manusia merupakan setengah Tuhan. Mungkin jika dikatakan bahwa manusia juga sedikit banyak ikut bertanggung jawab dalam penentuan nasibnya, aku setuju, tapi kalo dibilang kita ini setengah tuhan, aku mau nangessss.


Udah segitu dulu, nanti bisa buat skripsi lama-lama aku ngetik (alay najong) hehe. Tulisan ini merupakan opini ku semata terkait buku Tuhan Izinkan AKu Menjadi Pelacur!. Meskipun terdapat kritikan yang aku sampaikan, gak berarti aku benci bukunya, karena ada sisi positif juga dari substansi buku ini. Aku hanya sedang berusaha untuk menjaga atau bahkan meningkatkan daya kritisku di tengah pandemic ini. Kalo kalian udah baca bukunya, yuk dikusi atau kritik opini aku disini. Hope to see u soon!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hikayat Anak yang Malang

Seketika awan hitam datang Dunianya seolah berhenti, sendirian Tangannya gemetar, matanya terlihat basah Tak berdaya dikejar keabadian. Mung...