
Apakah yang harus kita
punyai, agar kita bebas dari ketakutan?
Kira-kira begitulah buku ini dibuka dengan
sepenggal kalimat tanya di atas. Pertanyaan yang singkat, namun mungkin banyak
dari kita belum menemukan jawabannya sampai saat ini. Apalagi pada era digital kini,
data, informasi, kesempatan terbuka sangat luas hingga kadang dunia cenderung dijadikan
ajang kompetisi bagi insannya. Karena itu banyak orang takut, khawatir pada banyak
hal, kemudian mendadak ndak bisa tidur hingga subuh (Siapa hayo?).
Namun, ketakutan yang dimaksud oleh Mochtar
Lubis dalam novelnya yang berjudul Jalan Tak Ada Ujung ini bukanlah
demikian. Ketakutan yang dimaksud ialah ketakutan yang dirasakan oleh para pejuang
pada masa revolusi, atau sekitar tahun 1946-an. Jakarta yang dijadikan latar
tempat dalam cerita ini digambarkan sebagai kota yang sangat mencekam, dimana kekerasan
bahkan pembunuhan terhadap masyarakat bisa dilakukan dengan bangga oleh tentara
sekutu. Maka dari itu ketakutan menyelimuti banyak masyarakat Jakarta pada masa itu. Terutama, ketakutan luar biasa diberikan kepada salah satu tokoh utama
dalam novel ini, seorang guru di salah satu SD di Tanah Abang -yang juga ambil peran dalam perjuangan Indonesia kala itu-, Guru Isa
sapaannya. Namun ketakutan Guru Isa sedikit termanipulasi akibat kehadiran Hazil
sebagai sosok pemuda yang semangatnya membara untuk mejadi pionir perjuangan
pembela rakyat.
Semangat Hazil yang kuat dan teguh untuk
meraih kebebasan kemerdekaan merupakan gambaran sosok pahlawan yang tertanam pada
banyak masyarakat. Namun, dalam novelnya kali ini, Mochtar Lubis sepertinya
berusaha untuk mengkritik paradoks tentang sosok karakter pejuang yang selama ini kita pahami. Bahwa dengan segala himpitan situasi seperti buruknya keadaan ekonomi, hilangnya rasa aman, sulitnya pergerakan perjuangan akhirnya mampu membuat pahlwan bertindak kriminal. Seperti adegan yang ditampilkan oleh Lubis ketika Guru Isa yang dihimpit
oleh kebutuhan hidup akhirnya berani untuk mencuri buku dari sekolah tempatnya mengajar untuk dijual di Pasar terdekat dan memberikan uang tadi kepada Fatimah, istrinya.
Selain itu banyak diantara masyarakat dalam novel ini diperlihatkan yang dalam diamnya namun menangisi runtuhnya kolonialisme Belanda dan Jepang di Indonesia.
Hati kecilnya (segelintir orang pribumi) berharap kolonialisme dapat diteruskan,
sehingga kejayaan hidupnya dapat berlanjut. Miris memang pemikiran ini terngiang
di hati masyarakat mengingat sebagian saudara se-tanah air diperlakukan bengis
bak hewan.
Tidak berhenti disitu, sosok karakter
pahlawan -Hazil- yang banyak dicintai pembaca pada awal cerita ini pun
mengkhianati pengagumnya. Hazil memiliki api asmara pada Fatimah, istri Guru
Isa. Yang lebih menyedihkan ialah kobaran semangat perjuangan yang dimiliki
Hazil selama ini akhirnya redup pada akhir cerita, bahkan dirinya menyerah pada
dirinya sendiri dan mengkhianati kawannya. Hebat betul Mochtar Lubis ini
mengguncang pembacanya, haha.
Namun meskipun demikian, Mochtar Lubis
melalui tokoh Guru Isa memberikan pesan yang cukup mendalam. Bahwa ketakutan pada
sesuatu itu akan selalu ada pada tiap dari kita, maka dari itu untuk terus hidup, kita memang dituntut untuk bisa berdampingan dengan rasa takut. Karena dengan begitu, kita dapat bertahan hidup dengan juga selalu berproses menjadi versi yang lebih baik lagi.
Meskipun menurut gue gaya penulisan Lubis
dalam novel ini cukup kaku, tapi ini bisa dimengerti karena mengingat novel ini
ditulis pada masa yang yang cukup lampau. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1952
oleh Balai Pustaka. Betapa beraninya Lubis mengarang cerita se-vulgar ini pada
masa itu, maka dari itu novel setebal 167 halaman ini sangat gue rekomendasiin
masuk ke dalam daftar bacaan lo!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar