Mengenai Saya

Foto saya
Hii, Welcome to my e-mind. Will always share book reviews, opinions on current issues, or even some poetry! 🌻

Selasa, 06 April 2021

Buku Berjudul “Jalan Tak Ada Ujung” Membongkar Sisi Kehidupan Para Pejuang Revolusi

 


Apakah yang harus kita punyai, agar kita bebas dari ketakutan?

Kira-kira begitulah buku ini dibuka dengan sepenggal kalimat tanya di atas. Pertanyaan yang singkat, namun mungkin banyak dari kita belum menemukan jawabannya sampai saat ini. Apalagi pada era digital kini, data, informasi, kesempatan terbuka sangat luas hingga kadang dunia cenderung dijadikan ajang kompetisi bagi insannya. Karena itu banyak orang takut, khawatir pada banyak hal, kemudian mendadak ndak bisa tidur hingga subuh (Siapa hayo?).

Namun, ketakutan yang dimaksud oleh Mochtar Lubis dalam novelnya yang berjudul Jalan Tak Ada Ujung ini bukanlah demikian. Ketakutan yang dimaksud ialah ketakutan yang dirasakan oleh para pejuang pada masa revolusi, atau sekitar tahun 1946-an. Jakarta yang dijadikan latar tempat dalam cerita ini digambarkan sebagai kota yang sangat mencekam, dimana kekerasan bahkan pembunuhan terhadap masyarakat bisa dilakukan dengan bangga oleh tentara sekutu. Maka dari itu ketakutan menyelimuti banyak masyarakat Jakarta pada masa itu. Terutama, ketakutan luar biasa diberikan kepada salah satu tokoh utama dalam novel ini, seorang guru di salah satu SD di Tanah Abang -yang juga ambil peran dalam perjuangan Indonesia kala itu-, Guru Isa sapaannya. Namun ketakutan Guru Isa sedikit termanipulasi akibat kehadiran Hazil sebagai sosok pemuda yang semangatnya membara untuk mejadi pionir perjuangan pembela rakyat.

Semangat Hazil yang kuat dan teguh untuk meraih kebebasan kemerdekaan merupakan gambaran sosok pahlawan yang tertanam pada banyak masyarakat. Namun, dalam novelnya kali ini, Mochtar Lubis sepertinya berusaha untuk mengkritik paradoks tentang sosok karakter pejuang yang selama ini kita pahami. Bahwa dengan segala himpitan situasi seperti buruknya keadaan ekonomi, hilangnya rasa aman, sulitnya pergerakan perjuangan akhirnya mampu membuat pahlwan bertindak kriminal. Seperti adegan yang ditampilkan oleh Lubis ketika Guru Isa yang dihimpit oleh kebutuhan hidup akhirnya berani untuk mencuri buku dari sekolah tempatnya mengajar untuk dijual di Pasar terdekat dan memberikan uang tadi kepada Fatimah, istrinya.

Selain itu banyak diantara masyarakat dalam novel ini diperlihatkan yang dalam diamnya namun menangisi runtuhnya kolonialisme Belanda dan Jepang di Indonesia. Hati kecilnya (segelintir orang pribumi) berharap kolonialisme dapat diteruskan, sehingga kejayaan hidupnya dapat berlanjut. Miris memang pemikiran ini terngiang di hati masyarakat mengingat sebagian saudara se-tanah air diperlakukan bengis bak hewan.

Tidak berhenti disitu, sosok karakter pahlawan -Hazil- yang banyak dicintai pembaca pada awal cerita ini pun mengkhianati pengagumnya. Hazil memiliki api asmara pada Fatimah, istri Guru Isa. Yang lebih menyedihkan ialah kobaran semangat perjuangan yang dimiliki Hazil selama ini akhirnya redup pada akhir cerita, bahkan dirinya menyerah pada dirinya sendiri dan mengkhianati kawannya. Hebat betul Mochtar Lubis ini mengguncang pembacanya, haha.

Namun meskipun demikian, Mochtar Lubis melalui tokoh Guru Isa memberikan pesan yang cukup mendalam. Bahwa ketakutan pada sesuatu itu akan selalu ada pada tiap dari kita, maka dari itu untuk terus hidup, kita memang dituntut untuk bisa berdampingan dengan rasa takut. Karena dengan begitu, kita dapat bertahan hidup dengan juga selalu berproses menjadi versi yang lebih baik lagi.

Meskipun menurut gue gaya penulisan Lubis dalam novel ini cukup kaku, tapi ini bisa dimengerti karena mengingat novel ini ditulis pada masa yang yang cukup lampau. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1952 oleh Balai Pustaka. Betapa beraninya Lubis mengarang cerita se-vulgar ini pada masa itu, maka dari itu novel setebal 167 halaman ini sangat gue rekomendasiin masuk ke dalam daftar bacaan lo!  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hikayat Anak yang Malang

Seketika awan hitam datang Dunianya seolah berhenti, sendirian Tangannya gemetar, matanya terlihat basah Tak berdaya dikejar keabadian. Mung...